Polbangtan buka jalur kolaborasi petani milenial dengan GRIN

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Jawa Barat, membuka jalur kolaborasi antara calon wirausaha petani milenial dengan organisasi Agripreuners Indonesia (GRIN) sebagai wadah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Polbangtan Ida Widi Arsanti seusai kuliah umum mengenai agroteknologi 5.0 di gedung Politeknik Polbangtan, Selasa, mengatakan petani milenial perlu didukung dengan motivasi dan jalur organisasi usaha yang mampu menyerap inovasi dan kreativitas mereka.

"Polbangtan kita menyiapkan para calon petani milenial, sementara GRIN menjadi wadah untuk lingkungan usaha mereka, jadi ini sangat strategis, karena tadi disebutkan UMKM didorong dalam GRIN ini," katanya.

Baca juga: Semangat petani milenial mengajak beralih ke pupuk organik

Ida mengungkapkan lingkungan menjadi sangat penting untuk menjaga semangat, kreativitas dan inovasi petani milenial dapat berkembang.

Dia menuturkan banyak mahasiswa, siswa SMK Pertanian yang semangat menjadi wirausaha semasa kuliah atau sekolah tetapi belum tentu mendapatkan dukungan yang cukup dari lingkungannya.

GRIN sebagai komunitas pengusaha pertanian milenial bisa menjadi ruang bagi para calon petani muda untuk bisa melanjutkan agribisnis ke depan. Peluncuran GRIN dilaksanakan di sela kuliah umum agroteknologi 5.0 yang diselenggarakan Polbangtan kepada para mahasiswa dan siswa SMK Pertanian.

Kuliah umum juga dihadiri Kepala Badan Pangan Arief Prasetyo Adi, Rektor IPB Arief Satria, Staf Khusus (Stafsus) Presiden Republik Indonesia Billy Mambrasar dan Chairman Mark plus Hermawan Kertajaya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, jumlah pemuda yang bekerja di sektor pertanian sebesar 19,18 persen. Sektor pertanian merupakan yang paling sedikit diisi oleh pemuda, dengan paling banyak pemuda bekerja di sektor jasa 55,8 persen, dan di sektor manufaktur 25,02 persen.

Baca juga: Wakil Ketua Komisi IV DPR panen bawang merah bersama petani milenial

Chairman Mark plus Hermawan Kertajaya mengemukakan bahwa pola pertanian lama segera berganti dengan pola petani milenial yang mampu beradaptasi dengan teknologi. Teknologi pertanian yang berkembang pesat dapat menjadi momentum petani milenial membangkitkan produk pangan lokal menjadi skala nasional bahkan internasional.

Hermawan yang juga terkenal sebagai ahli pemasaran menyampaikan setelah wadah para petani milenial ada yakni GRIN, selanjutnya adalah masalah pemasaran yang seringkali menjadi kendala UMKM.

"Jadi kemasannya harus bagus. Dibuat jadi produk pangan, petani lama sudah sulit untuk adaptasi teknologi. Pupuk melalui drone saja mereka takut, petani milenial tidak, malah tanya, bagaimana supaya produktivitas pertaniannya bagus," ujarnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong petani milenial untuk tetap kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan global terkait ketahanan pangan nasional dengan mampu menggagas ide besar dalam menciptakan peluang baru di sektor pertanian.

Syahrul mengatakan kondisi dunia saat ini membutuhkan tangan-tangan kreatif anak muda dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Apalagi, Indonesia sebagai negara besar memiliki tanah yang subur dan bisa ditanami apa saja yang dibutuhkan masyarakat dunia.

Menurutnya, kehadiran anak muda harus memperkokoh harapan rakyat dan memperkuat kesiapan-kesiapan yang ada dalam menghadapi tantangan global. Indonesia bahkan harus bisa keluar dari zona merah dunia dan cengkeraman krisis lainnya yang datang silih berganti.