Polda Gorontalo gelar diskusi penguatan wawasan kebangsaan

Direktorat Intelkam Kepolisian Daerah Gorontalo bekerjasama dengan Densus 88 Antiteror Mabes Polri menggelar diskusi kelompok terpumpun penguatan wawasan keagamaan dan kebangsaan, Kamis.

Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mencegah penyebaran paham radikalisme serta intoleransi di Gorontalo, yang dikenal sebagai Bumi Serambi Madinah.

Diskusi ini dihadiri Kapolda Irjen Pol Helmy Santika, Forkopimda, pejabat utama Polda, para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pimpinan organisasi kemasyarakatan, mahasiswa dan perwakilan siswa SMA/SMK.

Helmy menjelaskan perkembangan lingkungan strategis pada tataran global, regional, dan nasional saat ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan perekonomian sebuah bangsa.

Menurutnya beragam masalah terjadi seperti dampak pandemi COVID-19 yang sampai saat ini belum juga usai, ditambah adanya peperangan di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina, dan ketegangan di Timur Tengah antara Israel dengan Palestina yang kembali meningkat, serta ketegangan antara Cina dan Taiwan.

Masalah tersebut menjadi faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya lonjakan harga jual bahan kebutuhan pokok dan bahan baku, sehingga memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

“Terjadinya konflik bernuansa agama oleh kelompok yang mengatasnamakan agama melalui aksi intoleransi, radikalisme, ekstremisme, maupun terorisme turut berpengaruh terhadap stabilitas Kamtibmas di seluruh wilayah NKRI,” kata Helmy.

Ia menambahkan, Densus 88 Antiteror Mabes Polri telah beberapa kali melakukan upaya hukum yang tegas dan terukur dengan menangkap oknum yang diduga akan melakukan aksi radikalisme dan terorisme, di dalam maupun di luar Provinsi Gorontalo.

“Beberapa waktu yang lalu, Densus 88 Antiteror bekerjasama dengan Polda Gorontalo menyelenggarakan pengucapan ikrar setia kepada NKRI oleh 15 orang jaringan Anshor Daulah di wilayah Provinsi Gorontalo,” ungkapnya.

Untuk memutus mata rantai penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, maupun terorisme tersebut perlu strategi efektif dan efisien secara berkelanjutan.

Strategi itu dibutuhkan dalam mengantisipasi penyebarluasan paham tersebut, dengan melalui penguatan wawasan keagamaan dan kebangsaan.

“Kami berharap dengan diskusi yang menghadirkan beberapa narasumber berkompeten ini, dapat menyamakan persepsi dan mencari solusi terbaik untuk memperkuat wawasan keagamaan dan kebangsaan,” ujarnya.