Polda Metro Dalami Kasus Amplop Kiai, Ketum PPP Suharso Monoarfa Bakal Diperiksa

Merdeka.com - Merdeka.com - Polda Metro Jaya telah menerima laporan terkait dugaan ujaran kebencian atau penghinaan terhadap para kiai yang dituduhkan kepada Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa. Penyelidik tengah mendalami laporan itu dan akan memeriksa Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional itu.

"Iya laporannya benar, sudah diterima Polda Metro Jaya dan penyidik sedang mempelajarinya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan kepada awak media, seperti dikutip Jumat (26/8).

Zulpan menambahkan, pendalaman dilakukan dengan memanggil pelapor terlebih dahulu. Kemudian, pihaknya juga akan melengkapinya sejumlah barang bukti hingga keterangan terlapor.

"Namanya laporan polisi diambil keterangan siapa pelapor, habis pelapor berikut dengan alat bukti pendukung baru nanti (diambil keterangan) terlapor," jelas Zulpan.

Dilaporkan Alumni Pesantren

Sebelumnya diberitakan, Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa dilaporkan ke Polda Metro Jaya, atas tuduhan melakukan menebar kebencian, permusuhan, penghinaan terhadap suatu agama atau beberapa golongan. Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/4281/VIII/2022/SPKT/POLDAMETROJAYA dan dilaporkan seorang bernama Ari Kurniawan yang berprofesi sebagai seorang wiraswasta.

"Waktu kejadian 15 Agustus 2022, lokasi kejadian Jakarta Selatan dengan korban para kiai," tulis laporan yang dilakukan Ari seperti dikutip, Senin 22 Agustus 2022.

Pelapor yang mengaku sebagai alumni Pondok Pesantren Al-Masthuriyah Jawa Barat ini menerangkan, Suharso dalam pidatonya 15 Agustus 2022 dalam kegiatan pembekalan antikorupsi politik cerdas berintegritas di Gedung KPK telah menyebut pernyataan yang menyinggung para kiai.

"Terlapor menyebut, ketika saya kemudian menjadi Plt ketua umum (PPP), saya mesti bertandang pada beberapa kiai besar, pada pondok pesantren besar ini demi Allah dan Rasul-Nya terjadi dan setiap ketemu, pak ndak bisa pak bahkan sampai hari ini kalau kami ketemu di sana, itu kalau selamanya itu nggak ada amplopnya, pak itu pulangnya itu sesuatu yang hambar," jelas Ari.

Ari berkeyakinan, pernyataan Suharso yang diuraikannya telah menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu agama atau beberapa golongan rakyat Indonesia.

Suharso pun diduga telah melanggar Pasal 156 KUHP dan atau Pasal 156 A KUHP. Ari pun melampirkan sejumlah barang bukti yang mendukung laporannya, seperti flashdisk dan tangkapan layar pemberitaan media.

Reporter: M Radityo/Liputan6.com. [yan]