Polda rekonstruksi kasus tewasnya Reza usai dihantam helm polisi

MERDEKA.COM, Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (6/11) akan menggelar rekonstruksi kasus kematian Reza Eka Wardana (16), pelajar SMA Dominicus, Gunung Kidul, yang terjatuh dari motor akibat dilempar helm oleh oknum anggota polisi.

"Kasus tersebut saat ini telah diambil alih Polda DIY, dan malam nanti kami akan melakukan rekonstruksi di tempat kejadian perkara (TKP)," kata Kapolda DIY Brigjen Polisi Sabar Raharjo di sela-sela serah terima jabatan Wakapolda DIY, Selasa.

Menurut dia, terhadap satu anggota Satlantas Polres Gunung Kidul Brigadir M, yang diduga sebagai pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan saat ini telah ditahan di Mapolda DIY.

"Rekonstruksi di TKP juga akan menghadirkan tersangka, ini kami lakukan untuk mengungkap fakta yang sebenarnya, serta untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dari Polres Gunung Kidul akan kami tarik semuanya, jangan sampai ada benturan polres dengan masyarakat," katanya.

Ia mengatakan, pelemparan helm tersebut terjadi pada Kamis (25/10) saat ada takbir keliling Idul Adha. Reza sempat mengalami koma selama sembilan hari di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, sebelum akhirnya meninggal pada Sabtu (3/11).

Saat itu Reza yang mengendarai sepeda motor di belakang konvoi takbiran berusaha menerobos pengamanan polisi, dan saat itu tersangka Bripka M sedang bersiap akan berpindah ke pos lain berjalan dengan memegang helm di tangan kanannya.

"Helm itu hampir terlepas saat akan ditabrak korban Reza yang melanggar arus dan berkendara dengan kecepatan tinggi, berkisar 70 hingga 80 kilometer per jam," katanya dikutip antara.

Sabar mengatakan, tersangka melemparkan helm itu ke arah korban dengan refleksitas tinggi.

"Perlu dibuktikan, apakah luka yang dialami korban akibat lemparan helm yang mengenai kepala, atau karena terbentur aspal saat terjatuh dari motor," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya saat ini telah meminta keterangan 13 saksi yang dalam kasus ini, yakni tujuh anggota kepolisian, dan enam warga masyarakat.

"Namun untuk mengetahui akurasi penyebab luka yang sesunguhnya, menurutnya hanya bisa dilakukan dengan otopsi forensik. Kalau perlu ada pembongkaran mayat, dibongkar kuburannya. Tapi itu harus seizin keluarga," katanya.

Sumber:
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.