Polemik Ganjar dan Puan Disebut Bisa Tingkatkan Popularitas PDIP

·Bacaan 1 menit

VIVA – Hubungan antara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI Perjuangan, tengah memanas. Hal itu terlihat saat Ganjar tidak diundang dalam acara yang dibuat oleh Puan Maharani.

Hal ini menjadi sorotan masyarakat sebab dalam undangan acara tersebut, semua kepala daerah di Jawa Tengah yang merupakan kader PDIP diundang. Namun terdapat pengecualian kepada Gubernur dengan disematkan tulisan 'Kecuali Gubernur' pada Rundown acara.

Direktur Eksekutif Indomatrik, Husin Yazid, membaca hal ini dengan sudut pandang berbeda. Menurutnya, dari adanya peristiwa ini membuat nama PDI Perjuangan semakin diperbincangkan di masyarakat dan itu memiliki dampak positif.

"Kondisi ini menjadi salah satu cara jitu jajaran pejabat teras PDI Perjuangan, agar menjadi buah bibir atau perbincangan di masyarakat. Jadi adanya kondisi ini membuat nama PDI Perjuangan terus menjadi pembicaraan," kata Husin saat dihubungi VIVA, Senin 24 Maret 2021.

Pria yang merupakan Pengamat Komunikasi Politik ini juga mengatakan, dampak positif yang diambil dari kondisi ini adalah tingkat pengenalan masyarakat dan penerimaan masyarakat ke PDI Perjuangan meningkat. Ini bisa menjadi bekal yang bagus untuk persaingan Pemilu 2024.

"Nah adanya hal ini, memiliki dampak positif di masyarakat berupa naiknya tingkat popularitas dan acceptabilitas PDI Perjuangan. Tingkat penerimaannya dan pengenalannya menjadi lebih meningkat," ujar Husin.

Hal lainnya yang juga dapat dilihat dari Polemik ini adalah menunjukkan bahwa PDI Perjuangan memiliki banyak tokoh yang berkualitas. Para tikoh tersebut memiliki kekuatan mumpuni untuk dicalonkan sebagai Capres 2024.

"Selain itu, adanya kondisi seperti ini, itu juga menunjukkan di PDI Perjuangan terdapat banyak tokoh yang mumpuni. Banyak kader yang berkompeten untuk dimajukan sebagai Capres di 2024 mendatang," ujarnya. (oya)

Baca juga: PDIP Sentil Ganjar Berambisi Nyapres, Pengamat: Ada Putri Mahkota