Polisi Buru Pelaku Lain di Praktik Suntik Filler Ilegal di Jakarta Barat

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat memburu seseorang yang diduga turut terlibat dalam praktik suntik filler ilegal. Polisi menyebut, seorang yang berinisial LC diduga mengaku sebagai dokter mengajarkan SR melakukan suntik filler.

"Kita sedang kejar supaya kita bisa dapat informasi dari yang bersangkutan," kata Kapolres Metro Jakarta Barat Ady Wibowo di Polda Metro Jaya, Kamis (8/4/2021).

Ady menerangkan, LC membuka les privat tata cara suntik filler di sebuah hotel kawasan Tamansari. Dia menyebut, tersangka SR belajar sangat kilat.

"Dia (SR) kenal dengan salah satu menurut dia adalah seorang dokter dengan inisial LC. Di situ dia dengan LC diberikan les privat cuma sehari dan diberikan ijazah oleh saudara LC," ujar dia.

Ady mengatakan, LC mendapatkan ijazah sebagai bukti telah lulus mengikuti pelatihan berupa suntik filler. Ady menyampaikan, LC memanfaatkan ijazah untuk memperdaya konsumennya.

"Dengan ijazah itu yang digunakan tersangka LC ini untuk mengelabui para korbannya bahwa yang bersangkutan memiliki sertifikasi terkait filler payudara itu," ucap dia.

Mendata Korban

Ilustrasi Garis Polisi. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)
Ilustrasi Garis Polisi. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)

Selain mengejar terduga pelaku lain, Ady menyampaikan, Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat turut mendata jumlah wanita yang menjadi korban akibat ulah SR. Sejauh, ini tercatat ada dua orang yang telah melapor.

"Kalau dari pengakuannya tersangka ada 15 yang dia lakukan penyuntikan tapi sejauh ini baru dua yang melapor. Yang 13 kami sedang cari informasi," tandas dia.

Sebelumnya, seorang wanita berinsial SR ditangkap aparat Polres Metro Jakarta Barat atas tuduhan membuka praktik suntik filler ilegal. Pelaku tak memiliki kompeten pada bidang tersebut.

Selain itu, suntik filler atau cairan yang dimaksukkan ke dalam bagian tubuh tertentu dipastikan mengandung bahan-bahan kimia berbahaya.

Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Ady Wibowo menyebut, SR mulanya reseller atau penjual ulang cairan silikon. SR membeli secara online dengan harga Rp 3,5 juta per liter atau 1000 cc, kemudian dijual kembali dengan harga Rp 4,5 juta. Aktivitas itu dilakoni sejak September 2020.

"Tersangka SR melakukan pembelian produk berupa cairan silikon tanpa merek secara online. Produk itu yang digunakan untuk melakukan filler payudara maupun di bagian bokong," ujar Ady di Polres Metro Jakarta Barat, Selasa (6/4/2021).

Ady menyampaikan SR beralih berprofesi setelah mengenal seseorang berinisial LC pada 10 Oktober 2020. SR tak lagi menjual bahan baku suntik filler, namun justru membuka praktik. Menurut Ady, LC yang mengajarkan dan menerbitkan sertifikat untuk SR.

Polisi saat ini masih memburu LC. Berdasarkan keterangan SR, dia mengaku sebagai dokter.

"LC membuka pelatihan tentang filler payudara secara singkat kepada SR dan diberikan sertifikat. Nah sertifikat inilah yang menurut hasil penyelidikan kami itu digunakan untuk bisa membuat korban percaya terkait praktik yang dilakukan oleh tersangka SR," ujar dia.

Ady menerangkan, SR mempromosikan suntik filler melalui akun media sosial Instagram, Beuaty Sexi Store. SR memasang tarif Rp 5 juta untuk filler sebanyak 500 cc dan Rp 3 juta untuk ukuran 250 cc.

"Yang bersangkutan juga dalam akun instagram Beauty Sexi Store memasag iklan dan menawarkan melakuka filler payudara," ujar Ady.

SR Menyuntik Filler ke 15 Wanita

Polres Metro Jakarta Barat mengungkap praktik suntik filler ilegal. (Istimewa)
Polres Metro Jakarta Barat mengungkap praktik suntik filler ilegal. (Istimewa)

Ady menyebut, SR telah menyuntikan filler ke tubuh 15 orang wanita. Dua di antaranya adalah CT dan WT. Saat itu, SR melakukan penyuntikan filler payudara di sebuah hotel di kawasan Tamansari, Jakarta Barat.

"CT dan WT mengubungi tersangka untuk meminta agar dilakukan filler. Perlu saya sampai ke rekan-rekan bahwa tersangka tidak memiliki tempat praktik khusus, dia home service bisa dipanggil. Akhirnya disepakati di sebuah hotel," ujar dia.

Ady menerangkan, kedua korban merasa tidak nyaman setelah disuntik filler. Bagian tubuh yang disuntik mengalami infeksi. Sehingga mengadukan ke Polres Metro Jakarta Barat.

"Korban jadi demam. Badannya tidak enak dan bekas suntikan tersebut mengeluarkan cairan nanah," ujar dia.

SR diringkus di kediamannya di Pondok Pucung, Tangerang Selatan. Dalam kasus ini, Polres Metro Jakarta Barat juga menangkap penyedia cairan suntik filler berinisial MP di daerah Batam.

"Di mana yang bersangkutan adalah orang yang selalu dihubungi SR untuk menjual cairan tersebut," ujar dia.

Kepolisian menyita sebanyak 298 botol cairan filler. Berdasarkan hasil pengacekan laboratorium, diketahui bahan baku yang digunakan adalah cairan silikon industri.

"Ada beberapa jenis silikon, tapi yang ada di depan kita ini adalah silikon industri yang tidak digunakan atau tidak diperbolehkan untuk digunakan dalam kesehatan atau kecantikan," tandas dia.

Saksikan video pilihan di bawah ini: