Polisi Dalami Dugaan Pelecehan Seksual Belasan Siswa di Batu

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepolisian Daerah Jawa Timur menindaklanjuti laporan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) terkait dugaan pelecehan seksual terhadap belasan siswa di sebuah sekolah di Kota Batu, Jawa Timur. Pelapor dan berapa korban dimintai keterangan.

Kasus itu ditangani Subdirektorat IV/Renakta Direktorat Reserse Kriminalisasi Umum. Kepala Subdit Renakta Ajun Komisaris Besar Polisi Ali Mahfud mengatakan, pihaknya telah menerima laporan terkait kasus itu. Pengumpulan bahan keterangan dan alat bukti pun dimulai.

Langkah awal yang dilakukan ialah meminta keterangan dari pihak pelapor dan beberapa korban. Direncanakan pula pengambilan visum. "Visum menunggu kesiapan korban," kata AKBP Ali dikonfirmasi wartawan pada Minggu, 30 Mei 2021.

Sebelumnya, Komnas PA melaporkan seorang pemilik sekolah di Kota Batu, Jawa Timur, atas tuduhan pelecehan seksual dengan korban belasan siswa ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur di Surabaya pada Sabtu, 29 Mei 2021. Datang ke Polda Jatim Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait dan Kepala DP3AP2KB Kota Batu MD Furqon.

"Hari ini begitu menyedihkan bagi Komnas Anak, karena ada sebuah institusi pendidikan yang cukup dikagumi, khususnya di Kota Batu dan masyarakat Jawa Timur. Ternyata sekolah berinisial SPI ini menjadi sumber malapetaka bagi peserta didik di sana," kata Arist Merdeka Sirait.

Arist mengatakan korban berasal dari sejumlah daerah. "(Korban) Yang seyogyanya dibantu agar bisa berprestasi dan sebagainya, tetapi malah dieksploitasi secara ekonomi, seksual, dan sebagainya. Ada yang dari Palu, Kalimantan Barat, Kudus, Blitar, Kalimantan Timur, dan sebagainya," ungkap dia.

Kepala DP3AP2KB Kota Batu MD Furqon menjelaskan, sekolah yang dikelola terlapor mendisiplinkan diri pada pendidikan enterpreneurship. "Ada pendidikan pertanian, kewirausahaan, bahkan membuat film kemarin terbaik se Asia Tenggara di mana yang main dari anak-anak siswa sekolah itu sendiri," ujarnya.

Siswa di sekolah terlapor berasal dari hampir seluruh daerah di Indonesia dan berlatarbelakang agama beda-beda. "Kategori anak orang miskin atau anak yatim atau yatim piatu yang memang ditolong oleh lembaganya, oleh Yayasan yang memang secara ekonomi berkecukupan," tandas Furqon.

Pihak sekolah membantah tudingan Komnas PA. "Saya juga kaget dan merasa aneh dengan pemberitaan ini. Kami tidak tahu siapa yang memasukkan bahan pelaporan, dengan tujuan apa, dan memiliki motif apa membuat laporan itu," terang Kepala Sekolah yang diadukan Komnas PA, R, dalam pesan tertulis diterima wartawan pada Sabtu, 29 Mei 2021.

R mengaku kaget karena laporan Komnas PA soal dugaan pelecehan seksual dengan korban belasan siswa sekolah tersebut tidak benar. Ia mengaku sudah aktif mengajar di sekolah itu sejak 2007. Ia juga menjadi kepala sekolah dan Ibu Asrama sampai saat ini.

"Tidak pernah terjadi kejadian-kejadian seperti yang disampaikan. Sama sekali tidak ada. Kami saat ini pun juga mencoba mencari tahu lebih dalam tentang hal ini. Sepertinya ada yang memiliki tujuan tidak baik kepada SPI," papar R.