Polisi Diduga Otak Pemerkosaan dan Pembunuhan Siswi

TEMPO.CO, SLEMAN- Seorang polisi berinisial HRD diduga menjadi otak dalam kasus pembunuhan dan perkosaan Priya Puspita Restanti (16), siswi Sekolah Menengah Kejuruan YPKK 3 Maguwoharjo, Depok, Sleman. Polisi yang berpangkat Brigadir Satu, 53 tahun, yang bertugas di Kepolisan Sektor Kalasan ditahan bersama tujuh tersangka lain.

"Oknum polisi ini bungkam, tetapi menurut keterangan saksi bisa mengarah ke sana (otak pemerkosaan dan pembunuhan)," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Sleman Ajun Komisaris Heru Muslimin, Rabu, 24 April 2013.

Para tersangka sudah ditahan sejak Sabtu, 20 April. Selain HRD, mereka yang menjadi tersangka adalah YN, BG, AR, SHY, ED yang berumur antara 19 hingga 21 tahun. Selain itu CA berumur 44 tahun yang merupakan orang tua YN.

Peristiwa perkosaan dan pembunuhan terjadi pada Selasa, 9 April 2013. Siswi dibuat tak sadarkan diri setelah dicekoki minuman keras. Setelah diperkosa, korban dibunuh dengan cara dipukul dengan balok kayu dan disayat lehernya dengan pisau dapur untuk memastikan korban sudah tewas.

Tubuh korban lalu dibuang sehari setelahnya di perkebunan di bawah pohon bambu di pinggir sungai Kringinan, Selomartani, Kalasan. Lalu mayat itu dibakar. Beberapa hari berikutnya, karena mayat korban menimbulkan bau busuk, pada Sabtu 13 April 2013 malam dibakar lagi oleh beberapa pelaku.

Dugaan kuat polisi itu sebagai otak kejahatan itu sangat kental. Sebab, setelah pemerkosaan dan pembunuhan itu para tersangka memberi keterangan yang berubah- ubah. Polisi harus berkali-kali membuat berkas dan beberapa kali mengkonfrontir tersangka satu dan lainnya.

Banyak keterangan dari para tersangka yang mengarah HRD sebagai otak pelaku. Di antaranya penemuan sepeda motor korban di dekat jembatan Grenjeng, Purwomartani, Kalasan. Temuan itu diperoleh HRD dan dua rekan polisi saat patroli. Polisi jarang berpatroli pada jalan itu dan tiba-tiba HRD mengajak dua rekannya ke daerah itu.

Namun, tersangka lain, yakni CA, memberikan keterangan oknum polisi itu diundang saat kejadian dan melakukan pemerkosaan dan pembunuhan. "Kami tidak butuh pengakuan tersangka, yang kami tonjolkan adalah pembuktian," kata Heru.

Kepala Kepolisan Resor Sleman, Ajun Komisaris Besar Hery Sutrisman menyatakan, mengatakan keterlibatan polisi dalam kejahatan ini diselidiki secara maraton. Jika memang benar-benar sebagai pelaku kejahatan, maka selain dihukum pidana juga dipecat dari kepolisian.

MUH SYAIFULLAH

 

 

 

Topik terhangat:

Caleg | Ujian Nasional | Bom Boston | Lion Air Jatuh | Preman Yogya

Berita lainnya:

Dahlan Tertarik Bikin Ladang Ganja

VIDEO Unik FBI Buka Pintu Pagar Kasus Bom Boston

Diduga Mark Up, Menteri Nuh: Ketemu Hatta, Beres

Jokowi: MRT Seperti Mencabut Kumis Harimau

Bayern Hancurkan Barcelona 4-0

 

 

 

 

 

 

 

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.