Polisi Gerebek Ruko yang Dijadikan Pabrik Ciu di Kabupaten Tangerang

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Satu unit ruko di Jalan Raya Pemda, Desa Bojong, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten yang dijadikan pabrik minuman beralkohol jenis ciu, digrebek polisi, Jumat (5/11/2021).

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro menerangkan, terbongkarnya praktik ilegal itu lantaran ada informasi dari masyarakat. Informasi itu kemudian ditindaklanjuti Tim Opsnal Unit VI Resmob Satreskrim Polresta Tangerang dengan melakukan penyelidikan.

"Anggota kami melakukan penyelidikan di salah satu ruko. Setelah itu diketahui satu unit mobil keluar dari ruko yang kemudian diikuti oleh anggota," kata Kapolres di lokasi kejadian.

Mobil itu kemudian diberhentikan di sekitar kawasan lampu merah Tigaraksa. Petugas kemudian melakukan penggeledahan lalu ditemukan 50 dus berisi minuman beralkohol jenis ciu. Polisi pun mengamankan seorang pria berinisial BA (36) warga Penjaringan, Jakarta Utara.

"Petugas menemukan 50 dus kemasan air mineral yang per dusnya berisi 24 botol ciu. Pengakuan tersangka sudah 4 bulan beraksi dan ciu diedarkan di wilayah Bekasi," katanya.

Petugas kemudian melakukan pengembangan dengan memeriksa dan menggeledah ruko. Diketahui bahwa ruko yang dikontrak tersangka BA sejak setahun terakhir itu digunakan sebagai tempat memproduksi minuman keras jenis ciu.

"Dari ruko itu kami mengamankan bahan baku membuat ciu seperti beras merah, ragi, dan gula,"katanya.

Tidak hanya itu, petugas juga mengamankan barang bukti peralatan memproduksi ciu. Di antaranya 4 buah tungku penyulingan, 4 buah panci penyulingan, drum fermentasi berisi ciu sebanyak 95 buah, drum fermentasi kosong sebanyak 15 buah, drigen berisi ciu hasil sulingan sebanyak 10 buah, drigen kosong 5 buah, botol bekas air mineral ukuran besar kosong 500 buah, dan botol bekas air mineral kosong ukuran kecil sebanyak 1.800 buah.

"Serta 1008 botol bekas air mineral ukuran besar dan 175 botol bekas air mineral yang sudah berisi ciu siap edar," kata Kapolres.

Selain itu, polisi juga mengamankan barang bukti alkohol meter yang digunakan tersangka untuk mengukur kadar alkohol dari ciu yang diproduksinya. Kata Wahyu, untuk membedakan kandungan atau kadar alkohol di tiap botol yang akan diedarkan, tersangka menggunakan tutup botol dengan warna yang berbeda-beda.

"Bila tutup botol warna merah berarti kadar alkohol 40 persen. Warna hijau 35 persen sedangkan putih 30 persen," jelas Kapolres.

Ancaman Pasal Berlapis

Sementara itu, Kabid Humas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga yang hadir pada kegiatan konferensi pers itu menambahkan, dalam sehari tersangka dapat memproduksi 20 dus ciu. Setiap dus berisi 24 botol yang dijual seharga Rp 11 ribu untuk botol ukuran kecil dan Rp 15 ribu untuk botol ukuran besar.

"Maka dengan kondisi demikian, keuntungan ekonomis yang berhasil dinikmati pelaku dalam sehari sekitar Rp 6 juta sampai Rp 7 juta," katanya.

Shinto melanjutkan, dalam menjalankan aksinya, tersangka dibantu 2 orang yang masih memiliki hubungan famili dengan tersangka yaitu inisial AP dan AH, keduanya pria. Saat ini, 2 orang yang menjadi karyawan tersangka itu masih menjalani pemeriksaan sebagai saksi.

Kini, tersangka dikenakan Pasal 140 dan/atau Pasal 142 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman 2 tahun penjara. Serta Pasal 62 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel