Polisi Hong Kong ancam gunakan peluru tajam seiring peningkatan ketegangan

Hong kong (Reuters) - Polisi Hong Kong pada Senin (18/11) mengancam untuk menggunakan peluru tajam jika "perusuh" menggunakan senjata mematikan dan melakukan tindakan kekerasan lainnya, setelah serangan terbaru selama lima bulan protes anti-pemerintah di kota yang dikuasai China itu.

Pernyataan polisi itu menyusul bentrokan baru di luar sebuah universitas di pusat Hong Kong tempat para pemrotes berlindung di balik perisai darurat dan melemparkan bom-bom bensin ke polisi dalam suatu kebuntuan yang memblokir terowongan vital.

Polisi mengatakan pada Minggu satu petugas telah dirawat di rumah sakit setelah diserang dengan panah di kakinya dan yang lain terkena bola logam meskipun ia tidak terluka.

Kekerasan yang telah mengguncang pusat keuangan Asia itu telah menimbulkan tantangan yang paling buruk bagi Presiden China Xi Jinping sejak ia berkuasa pada 2012. Xi mengatakan ia yakin pemerintah Hong Kong dapat menyelesaikan krisis tersebut.

Dalam pernyataan Senin, polisi memperingatkan orang-orang yang digambarkan sebagai perusuh untuk berhenti menggunakan senjata mematikan untuk menyerang petugas dan menghentikan tindakan kekerasan lainnya, dengan mengatakan polisi akan merespons dengan kekerasan dan mungkin peluru jika perlu.

Demonstran, marah pada apa yang mereka lihat sebagai campur tangan China di bekas jajahan Inggris itu, mengatakan mereka menanggapi penggunaan kekuatan berlebihan oleh polisi.

"Para pemrotes bereaksi terhadap polisi," kata Joris, 23, seorang insinyur sipil, kepada Reuters. "Kami belum melawan sebanyak yang kami bisa. Saya akan siap untuk dipenjara. Kami berjuang untuk Hong Kong."

Di jalur jalan utama di sebelah Universitas Politeknik Hong Kong, kendaraan polisi dengan meriam air bergerak maju di barikade yang didirikan oleh pengunjuk rasa tetapi ditarik kembali ketika bom bensin dilemparkan.

Polisi mengatakan pada Minggu bahwa polisi telah menembakkan peluru, tanpa memberikan rincian tentang penggunaan amunisi tajam terbaru. Polisi telah menembak dan melukai seorang pemrotes hingga kritis pada 11 November.

Tentara China di sebuah pangkalan yang dekat dengan universitas terlihat pada Minggu memantau perkembangan dengan teropong, beberapa mengenakan pakaian anti huru hara, saksi mata Reuters melaporkan.

Pasukan China dengan celana pendek dan T-shirt, beberapa membawa ember atau sapu plastik merah, telah muncul dari barak mereka pada Sabtu dalam penampilan publik yang langka untuk membantu membersihkan puing-puing.

Kehadiran tentara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) di jalanan, bahkan untuk membersihkan, berisiko memicu kontroversi tentang status Hong Kong sebagai daerah otonom.

Para pengunjuk rasa mengatakan Partai Komunis mengancam kebebasan yang dijamin ketika Hong Kong kembali ke pemerintahan China pada tahun 1997. Beijing membantah ikut campur dan menyalahkan pengaruh asing atas kerusuhan itu.

Pasukan China muncul di jalan-jalan Hong Kong hanya sekali sejak 1997, untuk membantu membersihkan dampak topan tahun lalu.