Polisi Hong Kong: Orang yang menggigit sebagian telinga seorang pria telah ditangkap

Hong Kong (AP) - Polisi Hong Kong pada Senin (4/11) mengatakan bahwa pria yang berusia 48 tahun dan menggunakan pisau untuk melukai dua orang dan menggigit sedikit telinga seorang politikus lokal selama proses akhir pekan telah ditangkap, bersama dua orang yang balik menyerang dia.

Pejabat senior polisi John Tse mengatakan lelaki tersebut menikam dua orang dengan pisau di luar satu mal pada Ahad malam, setelah pertengkaran, sebelum membenamkan giginya ke telinga politikus tersebut. Tse mengatakan penyerang itu, yang namanya tidak disebutkan, kemudian diserang oleh massa yang marah, termasuk dua peria yang berusia 23 dan 29 tahun. Semua ketiga orang tersebut ditangkap setelah peristiwa itu.

Lima orang cedera, termasuk dua orang yang berada dalam kondisi kritis, kata polisi.

"Kami tidak mentolerir setiap bentuk kekerasan tak peduli motif dan sikap politik seseorang. Kami tentu saja akan menyelidiki secara lengkap dan menyeret para pelanggar ke pengadilan," kata Tse.

Media setempat mengutip saksi mata yang mengatakan bahwa sebelum mengamuk, lelaki itu mengatakan kepada korban bahwa Hong Kong milik China. Tayangan televisi memperlihatkan lelaki tersebut tiba-tiba menikam Kanselir Distrik Andrew Chiu di tengkuk dan menggigit telinganya, ketika Chiu berusaha mencegah dia pergi setelah serangan itu. Seorang pria jatuh pingsan di tanah di genangan darah.

Peristiwa tersebut terjadi tak lama setelah polisi menyeru mal tersebut dan beberapa kompleks pertokoan untuk menggagalkan protes anti-pemerintah sementara ketegangan terus meningkat setelah lima bulan kerusuhan di wilayah semi-otonomi China itu.

Walaupun Chiu adalah politikus pro-demokrasi, tidak jelas apakah itu memainkan peran dalam serangan tersebut.

"Itu memperlihatkan emosi berkobar meskipun pemerintah mengklaim untuk meningkatkan perujukan. Itu adalah tanda bahwa situasi mulai tak terkendali. Orang-orang kehilangan kesabaran dan mencampakkan penilaian radional," kata Willy Lam, asisten profesor di Pusat buat Studi China di Chinese University di Hong Kong.

Tse mengatakan ada beberapa peristiwa berdarah lain pada akhir pekan saat "perusuh" menyerang orang yang memiliki pandangan yang berbeda. Dalam satu peristiwa, massa memukuli seorang pendukung Beijing sampai ia pingsan dan kemudian ia ditelanjangi pada Sabtu di satu tempat yang dilihat oleh media lokal.

"Kerusuhan berdarah dan memalukan semacam ini sama sekali bertentangan dengan kemanusiaan," kata Tse.

Ia mengatakan polisi menangkap 325 orang pada akhir pekan. Operasi ditingkatkan pada Ahad (3/11) untuk menghalangi pertemuan umum tanpa izin dan memburu pemrotes radikal yang telah merusak toko, stasiun kereta bawah tanah dan melakukan pembakaran sehari sebelum kerusuhan lain setiap pekan.

"Perburuan merusak perusuh tidak menguntungkan sama sekali selain untuk mengumbar kepedihan dan kemarahan mereka, nyata dan khayalan. Berlanjutnya kerusuhan ini adalah situasi yang kalah-kalah buat Hong Kong," kata Tse.

Komentarnya dikeluarkan melalui tayangan Facebook Live setelah polisi menghentikan taklimat mereka ketika enam wartawan menggelar protes dan menolak untuk pergi. Dengan memakai helm yang bertuliskan "selidiki kekerasan polisi, hentikan kebohongan polisi", mereka memprotes apa yang mereka katakan kekerasan oleh polisi yang meningkat terhadap wartawan yang meliputi protes tersebut.

Demosntrasi itu dimulai pada awal Juni gara-gara rencana yang sekarang dicabut untuk mengizinkan pengekstradisian ke China Daratn tapi sejak itu telah membengkak jadi gerakan yang mengupayakan tuntutan lain, termasuk pemilihan umum langsung buat para pemimpin Hong Kong dan penyelidikan independen mengenai prilaku polisi.

Banyak pemrotes marah bahwa Beijing secara perlahan melanggar kebebasan yang dijamin buat Hong Kong ketika bekas koloni Inggris itu dikembalikan kepada kekuasaan China pada 1997. Tak ada tanda kerusuhan dapat berhenti dalam waktu dekat sementara pemerintah telah menolak untuk mengalah dan Beijing telah menunjukkan China Daratan dapat mengetatkan kekuasaan atas wilayah itu.

"Protes telah menyatu ke dalam kehidupan warga Hong Kong," kata pengembang perangkat lunak Ming Or (31), saat ia menyaksikan massa meneriakkan slogan anti-pemerintah di satu mal di pusat kota selama waktu makan siang pada Senin.

"Generasi muda ingin masyarakat yang lebih jujur dan adil dan bukan memiliki kue yang lebih besar yang tidak dibagi secara sama, dan kami ingin hak dasar kami dijamin. Kami tak bisa berhenti sebab kami merasa kami melakukan tindakan yang benar," katanya.