Polisi: Kasus iPad Dian-Randy Delik Murni

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Polisi menilai penangkapan terhadap Dian Yudha Negara (42) dan Randy Lester Samu (29) merupakan delik murni lantaran tertangkap tangan menjual iPad tanpa mempunyai izin resmi.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Baharudin Djafar di Mapolda Metro Jaya, Rabu (6/7/2011).

"Ini delik murni. Penangkapan Randy masuk ke dalam kriteria tertangkap tangan," jelas Baharudin.

Ada tiga jenis penangkapan yang biasa dilakukan pihak kepolisian. Pertama, dalam keadaan biasa yang harus dilengkapi dengan surat perintah penangkapan dan surat tugas.

Kedua, ada dalam keadaan perlu dan mendesak, polisi tidak perlu surat penangkapan, hanya surat tugas. Ketiga, tertangkap tangan, tidak perlu surat tugas.

Teknik yang digunakan dalam penangkapan Randy menurut Baharudin bukan menjebak seperti yang pernah dipertanyakan pengacara Randy dan Dian. Cara tersebut dimungkinkan untuk mengungkap penipuan lewat internet karena dalam kurun waktu 2010-2011 telah terjadi 94 kasus penipuan melalui internet dengan jenis pengaduan yang berbeda-beda.

"Itu teknik dan taktik untuk penangkapan kasus-kasus yang menggunakan media internet. Kalau tidak menyatakan sebagai pembeli, itu tidak bisa. Beda dengan narkotika, kalau narkotika itu secara jelas boleh menjebak tapi yang ini bukan jebakan dan pandangan kepolisian itu sah dalam melakukan penegakan hukum," terangnya.

Meskipu, Ditjen Standar dan Perlindungan Konsumen Kementrian Perdagangan menyatakan kedua tersangka tidak melanggar hukum karena iPad belum masuk produk yang harus memiliki manual berbahasa Indonesia. Tetapi polisi mengatakan bahwa keduanya tetap melanggar Pasal 62 ayat (1) jo Pasal 8 Ayat (1) huruf j UU No 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

"Tujuan sebenarnya untuk melindungi konsumen membeli barang yang ilegal karena kalau ilegal kalau rusak dibetulkan dimana, oleh sebab itu harus ada fakturnya. Nah, kepolisian menegakkan hukum untuk melindungi konsumen bila terjadi kerusakan dan ini berpotensi merugikan konsumen," terangnya.

Seperti kita ketahui Dian Yudha Negara (42) dan Randy Lester Samu (29), dua Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) terpaksa berurusan dengan polisi. Mereka menjual dua iPad kepada seorang polisi yang menyamar sebagai pembeli. Polisi menduga, penjualan iPad tersebut bermasalah.

Kasus ini bermula ketika Dian dan Rendy menawarkan 2 buah iPad 3G Wi Fi 64 GB di forum jual beli situs www.kaskus.us. Entah karena apa, tawaran ini membuat anggota polisi Polda Metro Jaya melakukan penyelidikan.

Kemudian polisi pun melakukan penyamaran sebagai pembeli. Transaksi pun dilakukan pada 24 November 2010 di City Walk, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Setelah itu, polisi pun langsung menciduk kedunya pada saat transaksi tersebut.

Keduanya mengaku iPad tersebut didapat dari seorang penjual. Tetapi baik Randy maupun Dian saat ditanya siapa penjualnya, keduanya tidak bisa menjelaskan.

Kini proses kasus tersebut sudah masuk ranah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Keduanya didakwa melanggar Pasal 62 Ayat (1) juncto Pasal 8 Ayat 1 huruf J Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen karena tidak memiliki buku manual berbahasa Indonesia.

Keduanya juga dijerat dengan Pasal 52 juncto Pasal 32 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi karena iPad belum terkategori sebagai alat elektronik komunikasi resmi. Keduanya kini diancam hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun penjara.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.