Polisi Olah TKP Kasus Pelecehan Seksual Belasan Siswa di Batu

·Bacaan 2 menit

VIVA – Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Jawa Timur melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dalam kasus dugaan pelecehan seksual terhadap belasan siswa di sebuah sekolah di Kota Batu, provinsi setempat, pada Selasa, 1 Juni 2021. Olah TKP dilakukan di lokasi kejadian sebagaimana laporan korban.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim Komisaris Besar Polisi Gatot Repli Handoko menjelaskan, olah TKP dipimpin langsung oleh Direktur Reskrimum Polda Jatim Komisaris Besar Polisi Totok Suharyanto. “Olah TKP dilakukan di Batu,” katanya kepada wartawan di Surabaya pada Rabu, 2 Juni 2021.

Gatot ogah menjelaskan secara rinci hasil olah TKP. Sebab, kata dia, penyelidik masih melakukan pendalaman dan akan melakukan gelar perkara lagi. Keterangan, informasi, dan bukti masih dikumpulkan. Setelah dirasa cukup, baru terlapor berinisial JE akan dipanggil untuk diklarifikasi.

Kepala Subdirektorat IV/Renakta Ditreskrimum Polda Jatim Ajun Komisaris Besar Polisi Ali Mahfud sebelumnya menuturkan salah satu pengumpulan bukti yang dilakukan ialah melakukan visum terhadap korban yang melapor.

Visum dilakukan di RS Bhayangkara Surabaya pada Senin, 31 Mei. Hasil visum akan dijadikan salah satu bukti ada atau tidaknya unsur pidana dalam kasus yang tengah diusut oleh tim khusus itu.

Kasus ini diungkap berawal dari laporan Komnas PA yang mewakili korban pekan lalu mengadukan seorang pemilik sekolah di Kota Batu, Jawa Timur, atas tuduhan pelecehan seksual dengan korban belasan siswa ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur di Surabaya pada Sabtu, 29 Mei 2021. Datang ke Polda Jatim Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait dan Kepala DP3AP2KB Kota Batu MD Furqon.

"Hari ini begitu menyedihkan bagi Komnas Anak, karena ada sebuah institusi pendidikan yang cukup dikagumi, khususnya di Kota Batu dan masyarakat Jawa Timur. Ternyata sekolah berinisial SPI ini menjadi sumber malapetaka bagi peserta didik di sana," kata Arist Merdeka Sirait saat melapor.

Arist mengatakan korban berasal dari sejumlah daerah. “[Korban] yang seyogianya dibantu agar bisa berprestasi dan sebagainya, tetapi malah dieksploitasi secara ekonomi, seksual, dan sebagainya. Ada yang dari Palu, Kalimantan Barat, Kudus, Blitar, Kalimantan Timur, dan sebagainya," ungkap dia.

Kepala DP3AP2KB Kota Batu MD Furqon menjelaskan, sekolah yang dikelola terlapor mendisiplinkan diri pada pendidikan enterpreneurship. "Ada pendidikan pertanian, kewirausahaan, bahkan membuat film kemarin terbaik se-Asia Tenggara di mana yang main dari anak-anak siswa sekolah itu sendiri," ujarnya.

Siswa di sekolah terlapor berasal dari hampir seluruh daerah di Indonesia dan berlatar belakang agama beda-beda. "Kategori anak orang miskin atau anak yatim atau yatim piatu yang memang ditolong oleh lembaganya, oleh Yayasan yang memang secara ekonomi berkecukupan," ujar Furqon.

Pihak sekolah membantah tudingan Komnas PA. "Saya juga kaget dan merasa aneh dengan pemberitaan ini. Kami tidak tahu siapa yang memasukkan bahan pelaporan, dengan tujuan apa, dan memiliki motif apa membuat laporan itu," kata Kepala Sekolah yang diadukan Komnas PA, R, dalam pesan tertulis diterima wartawan pada Sabtu, 29 Mei.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel