Polisi Pastikan Eks Napiter Penculik Anak Tak Pernah Dibui di Lapas Gunung Sindur

Merdeka.com - Merdeka.com - Polres Bogor meralat keterangan terkait tersangka penculikan anak, ARA (28) yang pernah ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Gunung Sindur. Hal itu menyusul keterangan tidak ditemukannya identitas ARA sebagai narapidana di lapas tersebut.

"Ya jadi kami Satreskrim Polres Bogor telah berkoordinasi dengan Lapas Gunung Sindur mendapatkan informasi bahwa identitas tersangka tidak terdaftar di Lapas Gunung Sindur," kata Kasatreskrim Polres Bogor AKP Siswo Tarigan kepada wartawan, Jumat (13/5).

Siswo mengatakan, jika keterangan yang didapat penyidik dari hasil pemeriksaan kepada ARA berkaitan mantan narapidana Lapas Gunung Sindur tidaklah benar.

Siswo menegaskan telah mendapatkan informasi bahwa identitas tersangka tersebut pernah tercatat sebagai warga hunian Lapas Gunung Sindur dari pihak Kalapas.

"Sehingga bisa dikatakan kemungkinan apa yang disampaikan tersangka tidak benar," ujar dia.

Siswo mengatakan, karena tidak ditemukannya data ARA sebagai Eks Narapidana Gunung Sindur, polisi akan kembali menggali keterangan tersangka pernah terlibat dalam aksi terorisme.

"Sehingga kami juga belum bisa memastikan keterangan yang bersangkutan eks napiter," ujar dia.

Polisi Selidiki Pengakuan Tersangka Mantan Napi Teroris

Meski begitu, kata Siswo, ARA dipastikan terlibat kasus penculikan dan pencabulan. Hal itu setelah polisi mendapatkan bukti kuat menetapkan ARA sebagai tersangka.

"Jadi keterangan korban terkait tindak pencabulan dan penculikan benar terjadi. Kemudian terkait yang bersangkutan eks napiter itu belum benar," ujar dia.

Atas keterangan tidak benar itu, Siswo mengatakan, penyidik bakal kembali menelusuri terkait keterangan ARA yang mengaku sebagai mantan narapidana Lapas Gunung Sindur terkait tindak pidana terorisme.

"Nah itu kami belum temukan motifnya (motif berbohong). Sampai saat ini berdasarkan Lapas Gunung Sindur yang bersangkutan tidak pernah terdata sebagai warga binaan Gunung Sindur," ujar dia.

Tak Pernah Dipenjara di Lapas Gunung Sindur

Sebelumnya, Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Khusus Kelas IIA Gunung Sindur Mujiarto menegaskan tersangka penculikan terhadap 12 anak berinisial ARA oleh Kepolisian Resor (Polres) Bogor tidak pernah menjalani pidana di instansi tersebut.

"Berdasarkan data yang kami miliki, nama tersebut tidak pernah tercatat menjalani pidana di Lapas Khusus Kelas II A Gunung Sindur," kata Kalapas Khusus Kelas II A Gunung Sindur Mujiarto melalui keterangan tertulis Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang diterima di Jakarta, Jumat (13/5).

Hal tersebut disampaikannya menanggapi sejumlah pemberitaan yang terbit di berbagai laman situs media online pada Kamis (12/5) mengenai peristiwa penangkapan tersangka penculikan. Pelaku, ujar dia, mengaku sebagai mantan narapidana kasus terorisme di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur.

Atas pernyataan tersebut, Kalapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur saat ini telah berkoordinasi dengan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor, dan menyatakan nama tersebut tidak pernah menjadi warga binaan pemasyarakatan di instansi yang dipimpinnya.

Terakhir, ujarnya, Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur siap bekerja sama untuk pengungkapan tindak pidana dan proses hukum yang dilakukan oleh pihak kepolisian maupun aparat penegak hukum lainnya.

Pelaku Mengaku Terlibat Sejumlah Aksi Teror

Untuk diketahui jika selama pemeriksaan ARA mengaku sebagai mantan narapidana Gunung Sindur, yang terlibat aksi terorisme mulai Bom Sarinah 2016 silam dan juga kerusuhan di Bawaslu 2019. Kapolres Bogor AKBP Iman Imanuddin mengatakan, ARA mengaku berperan merekrut pelaku bom bunuh diri. ARA mengaku sebagai eks narapidana terorisme.

"Dia bagian yang cari pengantin saja, perekrut. Juga dua kali menjalani pidana terorisme di Lapas Gunung Sindur," kata Iman kepada wartawan, Jumat (13/5).

Selain keterlibatannya dalam aksi teror bom, Iman juga mengatakan, jika ARA juga terlibat dalam peristiwa kerusuhan di Gedung Bawaslu pada 21-22 Mei 2019.

"Ya pada saat kami melakukan BAP terhadap tersangka yang bersangkutan juga mengakui bahwa keterlibatannya di dalam kerusuhan pada tahun 2019 di Bawaslu," tuturnya. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel