Polisi Periksa Pelapor Deolipa dan Kamaruddin Terkait Dugaan Sebar Hoaks

Merdeka.com - Merdeka.com - Polisi memulai rangkaian pemeriksaan atas laporan terhadap mantan kuasa hukum Bharada E, Deolipa Yumara dan pengacara keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak terkait dugaan tindak pidana pemberitaan bohong alias hoaks. Aduan tersebut dibuat oleh Ketua Aliansi Advokat Anti Hoax, Zakirudin Chaniago.

"Bukan pemeriksaan, klarifikasi. Undangan klarifikasi sekaligus menyampaikan," tutur Zakirudin di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (20/9).

Zakirudin mengingatkan terkait keonaran yang ditimbulkan Deolipa dan Kamaruddin lewat pernyataan yang disebutnya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara hukum. Seperti soal luka sayatan di jasad almarhum Birgadir J hingga penganiayaan yang dijawab oleh ahli forensik bahwa hal tersebut tidaklah ada.

"Berkaitan dengan masalah yang satu lagi, LGBT, emang dia pernah merasakan di-LgBT-in? Katanya biseks, bisa laki bisa perempuan. Pernah enggak dia merasain digituin? LGBT. Apa lagi? Psikopat. Pernah enggak dia menyaksikan apa yang dilakukan seorang psikopat? Tuduhan katanya (asusila) antara PC dengan KM, itu, dia ngelihat? Dia kan sudah tidak jadi pengacara si Bharada E. Kenapa dia harus ngumbar omongan seperti itu. Itu pribadi sekali sifatnya. Jadi dia mau mencari musuh atau bagaimana," jelas dia.

Zakirudin menyatakan dirinya pun tidak panjat sosial alias pansos dengan mengambil langkah hukum terhadap Deolipa dan Kamaruddin. Selama 30 tahun menjadi advokat, sambungnya, dia lebih banyak menghindar dari awak media.

"Mereka umur-umur tahun 73 lahir sudah merasa hebat. Saya itu yang membangun organisasi advokat di Indonesia ini, jadi saya wajib menjaga marwah dan martabat advokat ini, karena ini marwah advokat ini adalah profesi yang mulia. Kita harus jaga. Jangan gara-gara dua gelintir manusia, yang menjadi opini semacam ini akhirnya rusak," katanya.

"Oh, advokat bisa ngomong apa aja ya, enggak bisa begitu. Pasal 15 juga mengatur kebebasan, hak imunitas, tapi secara bertanggung jawab dan dilaksanakan dengan itikad baik. Advokat sebagai penegak hukum, Pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Advokat," Zakirudin menandaskan.

Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo membenarkan adanya laporan terhadap pengacara Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak dan mantan kuasa hukum Bharada E, Deolipa Yumara. Laporan terhadap keduanya itu dilakukan di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan.

"Ya betul (Kamaruddin dan Deolipa dilaporkan)," kata Dedi saat dikonfirmasi, Selasa (6/9).

Ia menyebut, untuk laporan terhadap keduanya yang tertuang dalam laporan polisi Nomor: LP/B/0495/VIII/2022/SPKT/Bareskrim Polri, tanggal 31 Agustus 2022, ini akan didalami oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

"Didalami oleh Direktorat Siber Bareskrim," sebutnya.

Sebelumnya, Aliansi Advokat Anti Hoaks melaporkan Deolipa Yumara serta kuasa hukum Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak ke Bareskrim Polri, Jakarta Selatan. Pelaporan ini terkait dugaan tindak pidana pemberitaan bohong, yang tertuang dalam laporan polisi Nomor: LP/B/0495/VIII/2022/SPKT/Bareskrim Polri, tanggal 31 Agustus 2022.

Ketua Aliansi Advokat Anti Hoax, Zakirudin Chaniago mengatakan, laporan yang dibuatnya itu terkait pemberitaan Brigadir J alias Nofyryansyah Yoshua Hutabarat maupun pribadi Irjen Ferdi Sambo.

"Jadi gini, kita kemarin lapor dalam kapasitas selaku aliansi advokat anti hoaks yang peduli dengan kondisi masyarakat hukum supaya tertib hukum. Yang tidak berkapasitas, jauh menyimpang dari ini kita luruskan. Apalagi ini persoalan masih dalam proses perkara berjalan, kita serahkan kepada pihak berkompeten untuk hal semacam itu, kita jangan ganggu," kata Zakirun, Jumat (2/9).

"Kita buat laporan polisi enggak langsung diterima gitu ada gelar-gelar juga gitu, itu akhirnya yang kita kenakan adalah Pasal 14 Pasal 15 UUD no 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana. Jadi, nanti kalau soal pihak penyidik mengembangkan ke mana-mana itu tergantung keadaan apakah menyangkut IT-nya, menyangkut apanya itu urusan ular seribu kali ya," sambungnya.

Menurutnya, apa yang disampaikannya itu telah membuat masyarakat menjadi gaduh. Salah satunya yakni terkait dengan adanya luka sayatan terhadap tubuh Brigadir J yang pernah disampaikan Kamaruddin.

"Untuk Kamaruddin kan bicara antara lain di beberapa media online dia mengatakan ada sayatan, ada jari-jari hancur. Katanya telah ditembak, ada jeratan leher, semacam itu kan sebenarnya tidak sesuai dengan hal autopsi yang dikeluarkan oleh lembaga berwenang dari forum laboratorium forensik. Itu sdh dibantah langsung," jelasnya.

"Itu kan penggiringan opini semacam ini untuk membangun suatu kebencian kepada pihak keluarga ini. Itu sudah menyerang kepada kepentingan pribadi, personal," sambungnya.

Selain itu, terkait dengan Deolipa sendiri yakni ucapannya yang menyebut adanya persetubuhan atau Making Love (ML) antara Kuat Maruf dengan Putri Candrawathi.

"Kemudian, deolipa lebih sadis lagi bicaranya. Seperti LGBT, persetubuhan. Ini kan apa dia ngeliat yang begitu Ya kan pemberitaannya katanya si Kuat Maruf dengan PC itu ML, diketahui oleh Brigadir Yoshua. Jadi ini kan timbul spekulasi-spekulasi liar, padahal itu semua tidak benar," ungkapnya.

Tak hanya itu, tudahan juga dinilainya terhadap Sambo yang disebut psikopat. Ia pun mempertanyakan bukti apa yang menyatakan hal itu.

"Dituduhlah Sambo misalnya psikopat, memang ada hasilnya psikopat, padahal itu terbantah bahwa orang ini normal. Ada lagi berita tembak-tembak, kalau dia lagi meriksa marah-marah, apa itu benar. Jadi yang tidak substansial malah digulirkan, justru ini membias dan membuat persoalan menjadi kabur tidak jelas," ujarnya.

Ia pun ingin agar kasus yang melibatkan sejumlah personel Polri untuk diserahkan kepada Korps Bhayangkara sebagai penegak hukum.

"Kita maunya ya sudah percayakan kepada pihak berwenang dalam pemeriksaan ini, sama-sama kita pantau. Implikasi daripada perbuatan mereka itu jelas pidana, makanya kita laporin. Sebab, kalau tidak dihentikan semacam ini akan terus berkembang," tutupnya. [tin]