Polisi Urai Cerita Pembunuhan Bos Komputer Bekasi  

TEMPO.CO, Jakarta - Peristiwa pembunuhan Imam A. Syafei, bos servis komputer yang ditemukan tewas di bagasi mobil, mulai menemukan titik terang. Imam dibunuh tersangka D dan rekan tersangka. »Imam dibunuh saat dalam perjalanan di tol Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng,” kata juru Bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Rabu, 20 Maret 2013.

Sabtu lalu, korban yang punya rumah di Bekasi datang ke rumah D, 41 tahun, di Cakung, Jakarta Timur. Keduanya kemudian naik mobil korban dan membicarakan masalah bisnis.

Dalam perjalanan, mereka menjemput satu orang rekan, D, yang kini masih buron. Ketiga pengusaha komputer ini naik dalam satu mobil. D beralasan mengajak korban ke bazar komputer murah. "Karena kenyataannya bazar itu bohong, mereka berjalan tanpa ada tujuan sampai masuk tol," kata Rikwanto.

Dalam perjalanan itulah mereka cekcok. Mereka sempat berselisih di dalam mobil. Karena tak ada titik temu di antara mereka, korban dijerat Sabtu sore itu juga. Yang menjerat rekan D yang duduk di kursi belakang. Korban duduk di kursi penumpang bagian depan, di sebelah sopir.

Imam dijerat sambil ditanya berbagai macam hal. "Termasuk minta nomor pin ATM korban," kata Rikwanto. Dalam proses tersebut, akhirnya korban meninggal. Korban meninggal dalam perjalanan. Sesaat sebelum pembunuhan ini, korban sempat menelepon karyawannya. Terdengar percakapan bernada ancaman dan karena itu kemudian direkam. Setelah itu telepon genggam korban tak bisa dihubungi lagi. Hari juga karyawan Imam melapor ke polisi.

Namun, polisi belum tahu kilometer tol persisnya peristiwa itu terjadi. "Masih kami dalami," ujar Rikwanto. Dalam perjalanan itu pula tersangka memindahkan korban ke bagasi mobil di bagian belakang. "Kemudian korban diikat dan dilakban," ujarnya.

Karena sejak awal tidak ada tujuan, D sudah terlanjur berkendara masuk ke jalan tol bandara. "Akhirnya, dia berpikir untuk berhenti di bandara saja. Mereka tinggalkan korban di sana," katanya. 

Barang bukti berupa kawat untuk mencekik leher dan mengikat kaki korban masih ditemukan polisi di dalam mobil minibus Grand Vitara tersebut. Polisi telah memeriksa empat saksi dalam kasus ini, yaitu A (keluarga korban), R (karyawan korban), istri korban, dan T (satu saksi lain).

Ditanya motif pembunuhan, Rikwanto menyebut alasannya masalah bisnis. "Ada perhitungan yang tidak cocok sehingga membuat satu pihak merasa sakit hati," katanya.

Tersangka D telah ditangkap di Kuningan dan ditahan di Subdit Jatanras Polda. Adapun rekan D yang menjerat korban masih buron. Rikwanto mengaku belum bisa memastikan pasal yang dikenakan kepada D. "Pasal 338 KUHP kalau tidak terencana atau Pasal 340 KUHP kalau pembunuhan ini terencana. Kami tunggu hasil pemeriksaan lengkap," ujarnya. (Baca: Polisi: Rekaman Penculikan Imam di Internet Asli).

ATMI PERTIWI

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.