Polisikan Abu Janda, Soeharto Belajar Online hingga Hilang Harta

Dusep Malik
·Bacaan 3 menit

VIVA – Berita terkait pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda yang dilaporkan ke Kepolisian masih menjadi perhatian utama pembaca dan menjadi berita paling terpopuler di News and Tranding VIVA.co.id sepanjang Jumat 29 Januari 2021.

Pada berita terpopuler tersebut Abu Janda dilaporkan ke Kepolisan oleh DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) ke Bareskrim Polri. Hal itu dilakukan usai Abu Janda melakukan perang cuitan dengan Ketua Umum KNPI Haris Pertama di Twitter.

Kemudian, berita populer berikutnya masih terkait Abu Janda, kali ini dia disebut oleh Aktivis Papua yang juga mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai ikut menyerang dirinya usai dihina Ambroncius Nababan dengan foto bersama Gorila.

Lalu, berita terkait viralnya video Presiden ke-2 RI, Soeharto di twitter saat melakukan dialog dengan siswa melalui webinar ikut menjadi berita terpopuler. Sebab, Soeharto disebut warganet sebagai pioneer dalam proses belajar secara daring.

Kemudian, tak kalah menariknya adalah berita terkait kisah miliarder wanita Afrika yang kehilangan hartanya secara tragis, hingga viralnya transaksi pakai dinar dan dirham di media sosial ikut menjadi berita paling banyak dibaca pembaca VIVA.

Berikut rincian dari berita-berita tersebut:

1. Sebelum Dipolisikan, Abu Janda Sempat Perang Cuitan dengan Ketum KNPI

Pegiat media sosial, Permadi Arya alias Abu Janda resmi dilaporkan DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) ke Bareskrim Polri. Sebelum dipolisikan, ternyata Abu Janda sempat perang cuitan dengan Ketua Umum KNPI Haris Pertama di Twitter.

Berawal dari cuitan Haris yang isinya meminta Korps Bhayangkara bisa menindak tegas Abu Janda yang diduga melakukan dugaan rasisme pada mantan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai. Abu Janda juga mencuit dan mention ke Haris. Cuitannya mengaku akan melaporkan balik Haris.

Baca selengkapnya di sini

2. Dihina Gorila, Pigai Seret Nama Abu Janda dan Denny Siregar

Aktivis Papua yang juga mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai akhirnya buka suara soal penghinaan terhadap dirinya yang dilakukan oleh Ambroncius Nababan di Facebook. Ambroncius menyandingkan foto Pigai dengan Gorila.

Dalam wawancara salah satu program tvOne yang dikutip VIVA, Jumat, 29 Januari 2021, Pigai menyebut penghinaan tersebut sudah dilakukan Ambroncius sejak 2017.

Baca selengkapnya di sini

3. Viral Video Soeharto Berdialog dengan Siswa SMP soal Belajar Online

Video Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto beredar saat melakukan dialog dengan siswa melalui webinar di media sosial Twitter. Dengan begitu, Presiden Soeharto disebut sebagai pioneer dalam proses belajar mengajar secara daring atau webinar.

Saat ini, pemerintah menerapkan proses belajar mengajar secara online. Karena, Indonesia masih dilanda pandemi wabah COVID-19. Aturan belajar online itu dengan diterbitkannya Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan pendidikan dalam masa darurat COVID-19 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim.

Baca selengkapnya di sini

4. Kisah Tragis Miliarder Wanita Afrika yang Kehilangan Hartanya

Kisah kelam seorang miliarder yang kehilangan hartanya hingga bangkrut terjadi di Benua Afrika. Dia adalah Isabel Dos Santos, wanita terkaya di Afrika yang kehilangan kekayaan usai dibekukan oleh Pengadilan Angola dan hartanya dirampas oleh negara.

Dikutip dari Forbes pada Jumat 29 Januari 2021, Isabel Dos Santor adalah seorang putri mantan Presiden Angola. Ia dituduh mengumpulkan harga kekayaannya dari penggelapan dan pencucian uang. Kekayaannya pun diketahui dibekukan oleh tiga negara berbeda.

Baca selengkapnya di sini

5. Viral Dinar dan Dirham Jadi Alat Pembayaran di Indonesia, Ini Kata BI

Viral transaksi pakai dinar dan dirham di media sosial. Salah satunya terjadi di Pasar Muamalah di Jalan Raya Tanah Baru, Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat.

Merespons itu, Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, menegaskan bahwa rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah. Hal itu sesuai dengan UU Mata Uang dan UUD 1945.

Baca selengkapnya di sini