Politisasi Sensasi (Candi) Hambalang

Syahdan Nurdin, wawicaksono
·Bacaan 4 menit

VIVA – Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan kebijakan untuk melanjutkan megaproyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional di Bukit Hambalang.

Presiden Jokowi berjanji akan melanjutkan proyek peninggalan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dianggap mangkrak sejak 2016 lampau tersebut. Namun ternyata pertimbangan Presiden Jokowi tersebut hingga kini belum juga terealisasi.

Baru-baru ini niatan pemerintah tersebut mencuat kembali. Presiden Jokowi kembali menyinggung pertimbangkan pemerintah untuk melanjutkan lagi megaproyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional di Bukit Hambalang, Jawa Barat, yang sudah bertahun-tahun terbengkalai itu.

Mengamini niatan Presiden, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali pun menambahkan, Hambalang akan disulap menjadi tempat para atlet senior dan berbakat. Ia menjelaskan rencana itu telah tercantum dalam agenda besar Desain Olahraga Nasional.

"Kita sedang mempertimbangkan untuk bisa melihat Hambalang menjadi tempat untuk sentra atlet senior dan atlet-atlet kita yang sudah siap untuk bisa bertanding," papar Zainudin, yang dilansir YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (15/3).

Ternyata, Hambalang bukanlah merupakan satu-satunya proyek yang akan dikebut pemerintah. Usut punya usut masih ada proyek lainnya yang juga akan dibangun untuk kebutuhan para atlet nasional.

"Kami akan buat 10 sentra pemusatan latihan di beberapa daerah, dan yang paling mendasar adalah talenta ketika di sekolah dasar," tekad Zainudin.

Dus, pernyataan Presiden dan Mempora tersebut membuat fokus masyarakat terkait Hambalang kembali meningkat. Walaupun sebenarnya perhatian masyarakat terhadap keberadaan proyek Hambalang tidak benar-benar bisa terlupakan, namun lontaran niat Presiden dan Menpora di atas bisa memberikan apresiasi yang berbeda.

Megaproyek yang dianggap mangkrak tersebut sering disebut para pengkritik mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai "candi" karena bangunan fisiknya yang seharusnya megah namun terabaikan dan tak terurus seakan-akan candi peninggalan masa lampau.

Pembangunan lanjutan proyek Hambalang tersebut bisa diapresiasi sebagai salah satu bentuk rekonsiliasi pemerintahan Presiden Jokowi terhadap mantan Presiden SBY dan Partai Demokrat yang kini dianggap oposisi. Jika benar akan dilanjutkan pembangunannya, maka olok-olok sebagai "candi" bisa dilupakan dan tuduhan mangkrak yang dilekatkan pada SBY bisa dihapuskan.

Manuver PD Moeldoko

Ternyata mulai naiknya perhatian kepada megaproyek Hambalang tersebut juga menarik minat Partai Demokrat versi KLB Deliserdang yang diketuai oleh Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko.

Tentunya bukan kebetulan yang tanpa alasan jika kemudian mereka menggelar taklimat media di Kompleks Hambalang Sport Center, Bogor, Jawa Barat pada Kamis (25/3) siang.

Berdasarkan undangan yang dikirimkan oleh inisiator Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat Deli Serdang, Darmizal, pada kesempatan tersebut para pengurus Demokrat versi Moeldoko akan mengutarakan beberapa informasi penting terkini pasca KLB.

"Agenda: Informasi Penting Terkini Pasca KLB. Tema Kongres Luar Biasa Kembalikan Partai Demokrat Yang Demokratis," tulis undangan yang disebarkan pada Rabu (24/3) malam.

Apakah tujuan penyelenggaraan taklimat media di Kompleks Hambalang Sport Center ini menyerang SBY? Menurut salah satu inisiator KLB sekaligus pendiri Demokrat, Hencky Luntungan, alasan utama digelarnya taklimat media di Hambalang ini hanyalah untuk memberikan kenyamanan bagi awak media. Menurutnya taklimat media yang selama ini digelar di Jakarta dianggap membahayakan terkait potensi penularan virus Corona yang ada.

"Itu karena di Jakarta terus pertama Covid, ruang tertutup. Kalau Sport Center Hambalang kan ruang terbuka. Mengambil kenyamanan lah," papar Hencky.

Namun Hencky tak mengingkari bahwa pihaknya juga sengaja mengambil tempat taklimat media di proyek Hambalang sebagai peristiwa langka. Hal itu bertujuan agar mata masyarakat Indonesia terbuka.

"Agar mata terbuka, sebagai kenangan yang tak terlupakan oleh rakyat Indonesia," ujarnya.

Menanggapi manuver ini, PD pimpinan AHY tidak tinggal diam. Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani menilai manuver pengurus Demokrat kubu Moeldoko yang menggelar taklimat media di Kompleks Hambalang Sport Center, Bogor, Jawa Barat pada Kamis (25/3) tersebut sekadar cari sensasi semata.

"Pilihan Hambalang pastinya untuk mencari sensasi. Darmizal sangat gandrung sensasi," tuduh Kamhar juga melalui keterangan tertulis, Kamis (25/3).

Menurut Kamhar, pihaknya tidak mempersoalkan kubu Moeldoko ingin menggelar taklimat media di mana saja tempatnya. Asalkan, tetap mengikuti aturan yang berlaku.

"Meskipun kita ketahui bersama, terekam dalam memori publik mereka berkegiatan tak berizin di Sibolangit," sindirnya.

Jubir Partai Demokrat kubu Moeldoko, M Rakhmat, dalam konferensi pers yang digelar tersebut menyampaikan alasan pemilihan lokasi Hambalang ini karena menjadi saksi kudeta SBY kepada Anas Urbaningrum, yang saat itu menjadi Ketua Umum.

"Di belakang kita dan di samping kanan saya. Kita saksikan proyek pembangunan Hambalang yang hampir menjadi Candi Hambalang. Di Bukit Hambalang inilah sejarah awal Pak SBY melakukan kudeta merangkak kepada Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum 7 tahun yang lalu," papar Rakhmat saat memberikan konpers.

Nampaknya selama proyek pembangunannya belum dilanjutkan, megaproyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional di Bukit Hambalang, masih akan terus menjadi sensasi yang seksi untuk dipolitisasi. Tabik.