Polri Siap Berkoordinasi dengan KPK Usut PNKB

Sukabumi (ANTARA) - Polri menyatakan kesiapannya berkoordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut dugaan kasus korupsi pengadaan Pelat Nomor Kendaraan Bermotor (PNKB) di Korlantas Polri pada 2011.

"Intinya kita akan bicarakan dengan KPK. Kita harus berkoordinasi dengan KPK untuk mengusut dugaan korupsi di Korlantas (Korps Lalu Lintas)," kata Kepala Polri Jenderal Pol Timur Pradopo di Sukabumi, Selasa.

Timur belum menegaskan apakah koordinasi tersebut dapat berupa pelimpahan kasus ini ke KPK, seperti kasus pengadaan alat simulasi (simulator) kemudi.

"Tentunya semua masih berkembang," ujarnya ketika ditanya mengenai pelimpahan.

Dia mengatakan penanganannya kini masih dilakukan oleh Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dit.Tipikor) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.

"Yang penting segala persoalan hukum harus ditangani. Semangatnya koordinasi (antarlembaga penegak hukum)," ujarnya singkat.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan Direktorat Tipikor Bareskrim telah memeriksa beberapa saksi terkait kasus ini. Kasus ini masuk dalam tahap penyidikan pada Oktober 2012.

Namun, Boy membenarkan ada indikasi keterkaitan antara pelaku dalam dua proyek, pengadaan pelat nomor dan simulator yang bernilai ratusan milyar itu. Hal itu terlihat dari susunan kuasa pengguna anggaran (KPA) dan pejabat pembuat komitmen (PPK) pelat nomor yang ditangani oleh orang yang sama dengan pengadaan simulator kemudi.

"Memang seperti kaitan PPK sama, KPA sama (dengan simulator)," ujar Boy.

Nilai proyek pengadaan pelat nomor, menurut Boy, dapat mencapai Rp500 milyar, yang berarti lebih besar dari proyek pengadaan simulator kemudi sebesar Rp196 milyar.


Sedangkan, untuk dugaan besaran nilai kerugian kasus ini, Polri menyatakan masih menunggu hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).(rr)



Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.