Polri: Teroris Gunakan Medsos untuk Sebarkan Pahamnya

·Bacaan 2 menit

VIVA - Kepala Densus 88 Anti Teror Polri Irjen Pol Martinus Hukom menyatakan bahwa pihaknya sudah menangkap 309 orang dalam beberapa waktu terakhir ini. Namun, dia menegaskan penangkapan-penangkapan itu akan terus dilakukan.

"Meskipun sudah banyak yang ditangkap, kelompok teroris tetap menggunakan media sosial untuk menyebarkan pahamnya," kata Martinus dalam sebuah diskusi yang digelar secara virtual, Selasa, 31 Agustus 2021.

Martinus mengungkapkan bahwa kelompok teroris tersebut selalu mempertentangkan Pancasila dengan ideologi lain. Dia pun meminta masyarakat mewaspadai penyebaran paham terorisme yang saat ini gencar dilakukan melaui media sosial.

Hal itu menyusul kemenangan Taliban di Afghanistan yang diperkirakan akan membangkitkan sel tidur terorisme di tanah air.

Baca juga: Densus 88 Sebut Teroris JI Lihai Menyusup dan Ikut Berpolitik

Sementara itu, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono menyatakan tindak pidana terorisme merupakan kejahatan yang tergolong pemberantasannya dilakukan secara luar biasa (extra ordinary crimes). Tindak pidana tersebut juga dapat digolongkan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes again humanity) sehingga mendapat perhatian penuh dari pemerintah.

Perhatian ini tercermin dalam penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, serta dibentukan BNPT dan Detasemen Khusus 88 Anti Teror di lingkungan Polri.

“Ini dimaksudkan untuk menanggulangi aksi terorisme dengan sebaik mungkin sehingga dapat memberikan jaminan atas kamtibmas yang kondusif yang pada gilirannya tercipta stabilitas sebagai modal utama pembangunan,” kata Rusdi.

Sedangkan Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto mengakui fenomena kemenangan Taliban di Afghanistan telah memicu kekhawatiran sejumlah pihak tentang kebangkitan paham radikal dan teror. Keresahan ini terbukti dengan adanya ledakan bom di luar Bandara Kabul, 26 Agustus lalu.

“Peristiwa tersebut menyisakan tanda tanya bagaimana modus baru gerakan terorisme saat ini dan bagaimana partisipasi publik menekan aksi tersebut,” kata Wawan.

Wawan menambahkan terdapat sejumlah modus baru terorisme saat ini yaitu menjadikan perempuan sebagai pengantin, pendanaan teroris melalui kotak amal, lone wolf atau serangan teroris seorang diri, dan menggunakan milenial.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel