Polri Tetapkan Tujuh Tersangka Kasus Penipuan & Pemalsuan Data WanaArtha Life

Merdeka.com - Merdeka.com - Dittipideksus Bareskrim Polri telah menetapkan sebanyak tujuh orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan penipuan dan pemalsuan data pemegang polis asuransi WanaArtha Life.

"Penyidik unit 3 Subdit 5 Dittipideksus Polri telah menetapkan 7 orang sebagai tersangka dalam perkara terkait PT Asuransi Jiwa Adi Sarana WanaArtha," kata Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Nurul Azizah saat jumpa pers, Selasa (2/8)

Namun demikian Nurul belum membeberkan terkait peran dan identitas ketujuh tersangka. Dia hanya menyebut inisial dan pasal hukuman yang dipersangkakan dalam kasus ini.

Berikut daftar ketujuh tersangka beserta dugaan pasalnya:

1. TK, dikenakan Pasal 74 ayat 1 dan 2, Pasal 75, Dan Pasal 78 Undang-Undang nomor 40 tahun 2014 tentang perasuransian.

2. MA, dikenakan Pasal 74 ayat 1 dan ayat 2, Pasal 75, Pasal 78, Pasal 76 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2014 tentang perasuransian, Pasal 374 KUHP dan 345 TPPU.

3. YM, dikenakan Pasal 74 ayat 1 dan 2, Pasal 75, dan Pasal 78 Undang-Undang nomor 40 tahun 2014 tentang perasuransian.

4. YY, dikenakan Pasal 74 ayat 1 dan Pasal 75 Undang-Undang nomor 40 tahun 2014 tentang perasuransian.

5. DH, dikenakan Pasal 74 ayat 1 dan Pasal 75 Undang-Undang nomor 40 tahun 2014 tentang perasuransian.

6. RF, dikenakan Pasal 76 UU nomor 40 tahun 2014 tentang peransuransian Pasal 374 KUHP dan Pasal 3, 4, dan 5 TPPU.

7. EL, dikenakan Pasal 76 Undang-Undang nomor 40 tahun 2014 tentang perasuransian dan Pasal 374 KUHP serta Pasal 3, 4, dan 5 TPPU.

Sebelumnya, Petinggi manajemen WanaArtha Life (WAL) inisial YM dilaporkan ke Mabes Polri dengan dugaan tindakan manipulasi data pemegang polis. Padahal, saat ini para pemegang polis sedang menunggu dalam ketidakpastian karena aset WAL dibekukan karena diduga terkait dengan kasus Jiwasraya.

Dalam proses hukum di Kepolisian, beberapa saksi disebut-sebut sudah diperiksa oleh Bareskrim menindaklanjuti pelaporan bernomor R/LI/51/III/RES.1.24/2022/Dititipideksus tanggal 18 Maret 2022 itu. Penyidik saat ini masih melakukan penyelidikan.

"Baru laporan informasi dan dalam proses penyelidikan," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Gatot Repli Handoko, Kamis (7/4).

Kejanggalan yang dilaporkan kepada kepolisian diduga terkait adanya perbedaan per hitungan jumlah pemegang polis atau nasabah WAL. Polisi juga tengah mengusut kejanggalan data-data pemegang polis dan dugaan motif di belakangnya.

Sementara itu, anggota Komisi XI DPR RI F-Gerindra Wihadi Wiyantono mengatakan jika memang ada dugaan permainan data pemegang polis dan merugikan nasabah WAL, menurutnya hal itu harus diproses hukum.
.
"Bisa dilaporkan sendiri dengan kerugian dari nasabah yang dirugikan, saya kira itu jika memang bisa dibuktikan, dan jika OJK bisa menyatakan ada manipulasi data," ujarnya.

Maka dari itu, dia mendukung polisi melakukan pengusutan, apapun hasilnya. "Jika ada manipulasi dan merugikan pemegang polis, tentu harus ada penegakan hukum," seru Wihadi.

Ia juga meminta Kejaksaan mengusut hal serupa, jika menemukan dugaan manipulasi data dan ada masyarakat yang dirugikan terutama nasabah atau pemegang polis WAL. Sedang terhadap penyitaan rekening WAL, dia berharap tak lagi dikenakan.

"Selama ini kan mereka (nasabah) tidak bersalah, hanya terimbas kasus Jiwasraya dan Beni Tjokro, ini bisa langsung dibuktikan jika ada manipulasi data yang merugikan para pemegang polis," tuturnya. [fik]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel