Polusi Bikin Ukuran Penis Menyusut

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Seorang ilmuwan lingkungan telah memperingatkan bahwa penis manusia bisa menyusut atau alat kelaminnya berubah bentuk saat lahir akibat polusi. Penelitiannya itu tertuang dalam buku 'Count Down' yang ditulis Shanna Swan.

Swan adalah seorang guru besar Kedokteran Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran Icahn Rumah Sakit Mount Sinai, New York, Amerika Serikat (AS), mengutip dari laman Mashable, Minggu, 28 Maret 2021.

Baca: Terapi 20 Menit, Bisa Tingkatkan Vitalitas dan Kejantanan Pria

Ia memperingatkan bahwa senyawa kimia ftalat di udara menyebabkan manusia menderita efek samping, seperti ukuran genital abnormal, disfungsi ereksi, jumlah sperma dan tingkat kesuburan yang sangat rendah.

Bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik berdampak pada sistem endokrin yang menghasilkan hormon untuk mengatur hampir semua proses dalam tubuh. Akibatnya, lebih banyak bayi dilahirkan dengan penis yang lebih kecil.

Nah, buku Count Down ini meneliti bagaimana jumlah sperma serta organ reproduksi pria dan wanita dipengaruhi di era modern, dan bagaimana polusi berpotensi membahayakan masa depan umat manusia. Dalam penelitiannya, Swan mempelajari sindrom ftalat pada tikus. Janin yang terpapar bahan kimia terlahir dengan alat kelamin yang lebih kecil.

Dalam kasus manusia, dirinya menemukan bahwa bayi laki-laki yang terpapar bahan kimia tersebut ketika di dalam rahim memiliki jarak anogenital yang lebih pendek, yang berarti volume penis lebih rendah.

Alasan mengapa hal ini terjadi adalah karena ftalat meniru hormon estrogen, yang kemungkinan menyebabkan terganggunya produksi hormon alami dalam tubuh manusia dan menyebabkan pengaruh buruk pada perkembangan organ seksual.

Mengenai bagaimana ftalat ini menjangkau bayi yang belum lahir, Swan berpikir bahwa bahan kimia plastik kemungkinan besar ditularkan melalui mainan atau makanan. “Bayi yang kini memasuki dunia sudah tercemar zat kimia karena zat yang mereka serap di dalam rahim,” ungkap Swan.

Temuan Swan didasarkan pada beberapa studi, salah satunya adalah tingkat sperma di antara pria di negara-negara Barat telah turun lebih dari 50 persen selama empat dekade terakhir. Ia juga memperkirakan bahwa penurunan tingkat kesuburan yang begitu cepat bisa membuat sebagian besar pria menjadi tidak subur pada 2045.