Polusi udara dapat memperburuk penderitaan hidung dengan pilek dan alergi musiman

Oleh Lisa Rapaport

(Reuters Health) - Orang yang menderita rinitis -- hidung yang meradang atau tersumbat -- dari pilek atau alergi mungkin merasa jauh lebih buruk jika mereka terpapar polusi udara tingkat tinggi, sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan.

Rinitis biasanya melibatkan beberapa kombinasi dari kongisti -- hidung tersumbat--, bersin, iritasi hidung dan kadang-kadang berkurangnya indra penciuman, dan itu mempengaruhi hingga setengah dari populasi dunia, tim peneliti menulis dalam Journal of Allergy & Clinical Immunology.

"Menghirup udara yang tercemar akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif pada saluran pernapasan," kata pemimpin penelitian Emilie Burte dari INSERM di Villejuif, Prancis.

"Itu mungkin akan meningkatkan frekuensi atau keparahan gejala rinitis," kata Burte melalui surel.

Meskipun rinitis sangat umum di antara orang-orang dengan asma -- suatu kondisi yang diperburuk oleh polusi udara -- penelitian sampai saat ini belum menawarkan gambaran yang jelas tentang bagaimana kualitas udara berdampak pada keparahan rinitis.

Untuk penelitian saat ini, para peneliti memeriksa data tentang paparan polusi udara dan tingkat keparahan gejala untuk sekitar 1.400 orang dengan rinitis di 17 kota Eropa.

Dua jenis polutan secara khusus dikaitkan dengan gejala rinitis yang lebih buruk: nitrogen oksida, produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil yang berkontribusi terhadap kabut asap; dan disebut PM 2,5, campuran partikel padat dan tetesan cairan berdiameter lebih kecil dari 2,5 mikrometer yang dapat mencakup debu, kotoran, jelaga, dan asap.

Orang-orang di kota dengan kadar level tertinggi PM 2,5, atau partikel halus, melaporkan gejala rinitis yang paling parah.

Setiap peningkatan 5 mikrogram per meter kubik udara (mcg/m3) dalam konsentrasi partikel halus dikaitkan dengan peluang 17% lebih tinggi bahwa orang dengan rinitis akan mengalami gejala parah, penelitian menemukan.

Materi partikulat halus dikaitkan dengan kongesti, iritasi hidung dan bersin yang lebih buruk.

Nitrogen dioksida juga dikaitkan dengan rinitis yang lebih parah, terutama untuk gejala seperti keluarnya bunyi sengau dan hidung tersumbat.

Polutan yang memperburuk rhinitis dalam penelitian ini telah lama dikaitkan dengan asap lalu lintas, dengan kualitas udara yang lebih buruk di sekitar jalan raya utama di kota-kota di seluruh dunia.

Sementara penelitian ini tidak dirancang untuk membuktikan apakah polusi udara menyebabkan rhinitis atau memperburuk gejala, ada kemungkinan bahwa setiap jenis kontaminan di udara melakukan jenis kerusakannya sendiri dalam sistem pernapasan, kata Burte.

Orang-orang yang rentan terhadap pilek dan alergi tidak dapat berbuat banyak untuk mencegah polusi dari membuat rinitis menjadi lebih buruk, selain tinggal di dalam ruangan, kata Yaguang Wei, seorang peneliti kesehatan lingkungan di Universitas Harvard di Boston yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Orang-orang dapat memperhatikan peringatan kualitas udara untuk kota atau komunitas mereka dan berencana untuk tinggal di dalam ruangan atau setidaknya menghindari aktivitas yang kuat di luar selama masa puncak polusi.

"Untuk polusi udara dalam ruangan, pembersih udara dapat membersihkan udara dalam ruangan dan melindungi keluarga Anda, terutama untuk anak-anak dan orang tua," kata Wei melalui surel.

Orang juga dapat melakukan bagian mereka untuk mengurangi asap lalu lintas.

"Menggunakan transportasi umum dapat membantu mengurangi emisi polusi udara," kata Wei.