Polusi Udara di Musim Kemarau

·Bacaan 4 menit

VIVA – Sebentar lagi kita kan memasuki musim kemarau. Masalah yang akan selalu berulang di musim kemarau ini adalah masalah polusi udara. Beberapa waktu lalu kita pernah disuguhi berita mengenai kualitas udara terutama di Ibukota Jakarta. Kualitas udara di Jakarta bahkan sempat menempati posisi paling buruk di dunia berdasarkan data dari Air Visual.

Kejadian ini dimanfaatkan oleh sebagian kelompok untuk menyerang kinerja orang nomor satu di DKI Jakarta. Mereka yang kontra dengan Anies Baswedan mengkaitkannya dengan posisi politisnya. Namun kali ini kita tidak akan membahas aspek politik. Ada baiknya kita cari tahu kenapa bisa kualitas udara di Jakarta sangat buruk.

Salah satu yang menjadi penyebab utama kualitas udara buruk adalah peningkatan kadar karbon monoksida (CO) di atmoser. CO adalah pencemar primer yang berbentuk gas dan sangat stabil di udara. Ia mempunyai waktu tinggal di udara selama 2-4 bulan.

Sumber utama CO ini adalah pembakaran bahan bakar fosil dari kendaraan bermotor, industri-industri, pembangkit listrik, pembakaran hutan dan lain sebagainya. Atmosfer merupakan media tempat penyimpanan semua zat pencemar tersebut, baik berupa gas, cair maupun padat.

Masalah polusi udara tidak bisa kita lepaskan dari kondisi meteorologis, antara lain parameter angin, curah hujan dan suhu udara. Angin terbentuk akibat adanya perbedaan tekanan udara. Semakin besar takanan udara, maka aliran udara akan semakin besar pula. Begitu juga sebaliknya, jika kondisi atmosfer stabil maka angin cenderung tenang (calm). Pada kondisi angin tenang ini konsentrasi polutan akan semakin tinggi.

Polusi yang dihasilkan dari asap kendaraan bermotor dan industri akan terus bertumpuk di udara. Sebagi contoh adalah Ibukota Negara kita Jakarta. Dapat kita bayangkan kota Jakarta dengan jumlah kendaraan bermotor yang begitu banyak dan dikelilingi oleh industri-industri besar di kawasan penyangga ibukota betapa banyaknya menghasilkan polusi setiap hari.

Kondisi seperti ini diperparah dengan masuknya musim kemarau. Pada musim kemarau intensitas curah hujan berkurang. Curah hujan berfungsi sebagai “pencuci” atmosfer dan mengurangi zat pencemar udara. Air hujan akan bereaksi dengan sulfur melalui pengintian dan penyapuan.

Pengintian adalah bereaksinya senyawa sulfur dengan air hujan melalui inti kondensasi dan pembentukan tetes hujan. Kejadian ini biasa terjadi di dalam awan. Sementara itu penyapuan adalah bereaksinya senyawa sulfur dengan air hujan melalui penyapuan hujan. Kejadian ini terjadi di luar awan yang biasa disebut sebagai hujan asam. Dengan sedikitnya curah hujan maka polutan di udara semakin banyak terperangkap.

Tingkat polusi yang tinggi ini akan mengganggu suhu udara. Pada keadaan normal suhu udara berkurang 1°C tiap 100 m ketinggian. Artinya suhu dipermukaan lebih tinggi dibanding di udara. Namun ketika polutan terperangkap di atmosfer, maka perilaku suhu menjadi terbalik. Semakin tinggi atmosfer suhu semakin meningkat. Fenomena ini disebut dengan inversi suhu. Efek dari inversi ini, polutan di udara akan menjadi kering dan ringan sehingga bertahan lebih lama berada di udara.

Dari uraian singkat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa di musim kemarau kondisi udara di Jakarta akan selalu buruk. Kejadian ini selalu berulang dari tahun ke tahun. Tidak ada kaitannya siapa yang memegang kendali ibukota negara ini. Lalu dengan keadaan seperti ini apakah kita akan menerima saja apa adanya? Gubernur Anies Baswedan beberapa saat yang lalu sempat menggagas untuk menanam tumbuhan Lidah Mertua. Tumbuhan ini disinyalir dapat mengurangi polusi di udara. Namun berdasarkan penelitian NASA, tumbuhan Lidah Mertua ini hanya mampu mengurangi polusi di dalam ruangan dan di luar ruangan tidak berdampak signifikan. Gagasan ini juga dijadikan serangan oleh lawan politiknya.

Apakah tidak ada solusi untuk mengurangi polusi udara? Jawabannya ada. Untuk jangka pendek (di musim kemarau) dapat dilakukan dengan teknologi modifikasi cuaca. Beberapa teknologi yang dapat dilakukan adalah percobaan hujan buatan. Hujan buatan ini dilakukan dengan cara penebaran garam NaCl dengan tujuan penyemaian awan. Penyemaian dilakukan pada awan yang dinilai potensial untuk terjadi hujan. Garam NaCl berfungsi sebagai inti kondensasi untuk pembentukan tetes-tetes hujan. Dengan hujan polutan dapat “dicuci” atau setidaknya mengurangi konsentrasinya di udara. Jika tidak ada awan yang dinilai potensial untuk terjadi hujan, modifikasi berikutnya adalah menghilangkan lapisan inversi. Caranya adalah dengan menyemprotkan dry ice yang membuat lapisan inversi ini menjadi tidak stabil sehingga polutan ini dapat bergerak dan berpindah.

Untuk jangka panjang polusi udara dapat diatasi dengan beberapa cara antara lain, mulai beralih menggunakan energi yang ramah lingkungan. Mengurangi pemakaian kendaraan pribadi dan beralih menggunakan transportasi massal untuk meminimalisir polusi dari emisi kendaraan bermotor. Melakukan tindakan nyata dimulai dari diri sendiri, yakni membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi pemakaian plastik sekali pakai.

Penulis: Dr. Nofi Yendri Sudiar, dosen Fisika Lingkungan Universitas Negeri Padang.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel