Pompeo bertemu dengan negosiator Taliban dan Kabul, menginginkan pembicaraan dipercepat

·Bacaan 3 menit

Doha (AFP) - Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo bertemu dengan juru runding pemerintah Afghanistan dan Taliban di Doha dengan menyerukan mereka agar mempercepat pembicaraan damai mereka saat Washington mempercepat penarikan mundur militernya dari Afghanistan.

Pompeo "menyerukan pengurangan kekerasan yang signifikan dan mendorong diskusi dipercepat tentang peta jalan politik dan gencatan senjata permanen dan komprehensif", menurut Departemen Luar Negeri AS.

Diplomat utama AS itu bertemu secara terpisah dengan tim negosiasi pemerintah Afghanistan dan Taliban di sebuah hotel mewah di ibu kota Qatar, dan pertemuannya dengan pemberontak Taliban berlangsung lebih dari satu jam.

Kunjungannya terjadi setelah serangan roket yang menghantam daerah padat penduduk di Kabul sehingga menewaskan sedikitnya delapan orang dalam pecahnya kekerasan terbaru di ibu kota Afghanistan. Taliban membantah bertanggung jawab dan ISIS mengklaim serangan mematikan itu.

"Saya akan sangat tertarik untuk mendapatkan pemikiran Anda tentang bagaimana kami dapat meningkatkan kemungkinan hasil yang sukses", kata Pompeo saat bertemu dengan pihak pemerintah Afghanistan, mencatat keinginan bersama dalam skenario seperti itu.

Dia juga bertemu dengan penguasa Qatar, Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, dan Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, menteri luar negeri, saat singgah di Doha yang merupakan basis diplomasi Taliban.

Tetapi tidak ada pengumuman tentang terobosan dalam pembicaraan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan, sebelum kepergian Pompeo.

Dia terbang ke Abu Dhabi untuk perjalanan berikutnya dari tur tujuh negaranya ke Eropa dan Timur Tengah ketika Presiden Donald Trump menopang prioritas-prioritas waktu terakhirnya.

Abdullah Abdullah, ketua Dewan Tinggi Afghanistan untuk Rekonsiliasi Nasional, mengatakan kepada AFP bahwa pemerintah dan Taliban "sangat dekat" untuk memecahkan kebuntuan dalam pembicaraan.

"Kami sudah dekat, kami sangat dekat. Mudah-mudahan kami melewati fase ini dan sampai ke masalah substansial" termasuk keamanan, katanya saat berkunjung ke Turki.

Awal pekan ini, Pentagon mengatakan akan segera menarik sekitar 2.000 tentara keluar dari Afghanistan sehingga mempercepat jadwal yang ditetapkan dalam perjanjian Februari antara Washington dan Taliban yang merencanakan penarikan penuh AS sampai pertengahan 2021.

Trump telah berulang kali berjanji mengakhiri "perang selamanya", termasuk di Afghanistan yang merupakan konflik terpanjang di Amerika yang dimulai dengan invasi untuk mengusir Taliban setelah serangan 11 September 2001.

Presiden terpilih Joe Biden, dalam kesepakatan yang jarang terjadi dengan Trump, juga menganjurkan peredaan perang Afghanistan, meskipun para analis percaya dia tidak akan terlalu terikat dengan penarikan yang cepat.

Taliban berbicara kepada pemerintah Afghanistan untuk pertama kalinya.

Pembicaraan dimulai pada 12 September di Doha tetapi segera tersendat karena ketidaksepakatan tentang agenda, kerangka dasar diskusi dan tafsir agama.

Beberapa sumber mengatakan kepada AFP pada Jumat bahwa kedua belah pihak tampaknya telah menyelesaikan beberapa masalah.

Di antara poin-poin penting sejauh ini, Taliban dan pemerintah Afghanistan telah berusaha menyepakati bahasa yang sama pada dua masalah utama.

Taliban, yang merupakan garis keras Sunni, bersikeras untuk mematuhi mazhab Hanafi dari yurisprudensi Islam Sunni, tetapi juru runding pemerintah mengatakan ini bisa digunakan untuk mendiskriminasi kaum Hazara yang sebagian besar adalah Syiah, dan minoritas-minoritas lainnya di Afghanistan.

Topik kontroversial lainnya adalah bagaimana kesepakatan AS-Taliban akan membentuk kesepakatan damai Afghanistan di masa depan dan bagaimana kesepakatan itu akan dirujuk.

Pembicaraan perdamaian Doha dibuka setelah Taliban dan Washington menandatangani kesepakatan pada Februari, dengan AS setuju untuk menarik semua pasukan asing dengan imbalan jaminan keamanan dan janji Taliban untuk memulai pembicaraan.

Terlepas dari pembicaraan tersebut, kekerasan telah melonjak di seluruh Afghanistan, dengan Taliban meningkatkan serangan harian terhadap pasukan keamanan Afghanistan.

Rencana Trump memangkas pasukan sampai 15 Januari - kurang dari satu pekan sebelum penggantinya Joe Biden dilantik - telah dikritik di Afghanistan.

Serangan pada Sabtu di ibu kota Afghanistan menyebabkan rentetan roket menghantam berbagai bagian tengah dan utara Kabul - termasuk di dalam dan sekitar Zona Hijau yang dijaga ketat yang menjadi tempat beradanya berbagai kedutaan besar dan perusahaan internasional.

ISIS mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa 28 roket Katyusha telah ditembakkan oleh "tentara khilafah".

Juru bicara kementerian dalam negeri Afghanistan Tariq Arian sebelumnya menyalahkan Taliban, dengan mengatakan "teroris" telah menembakkan total 23 roket. Namun, Taliban membantah bertanggung jawab dengan mengatakan mereka "tidak menembaki tempat umum secara membabi buta".