PON, Kisah Buruk yang Terus Berulang

Kisah pilu Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII tahun 2012 di Riau yang digelar pada 9-20 September silam, seperti cerita lama. Dari tidak siapnya lokasi penyelenggaraan pertandingan, fasilitas atlet, infrastruktur, hingga sampah, semuanya sudah pernah kita dengar.

Bedanya, kali ini ditambah dengan bumbu dugaan korupsi pada proyek pergelaran olah raga terbesar di Tanah Air itu.

Pembangunan sejumlah lokasi pertandingan PON Riau sempat terhenti setelah dugaan suap pada Revisi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2010 tentang Penambahan Biaya Arena Menembak PON Riau diungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Bahkan masih ada pembangunan arena yang belum rampung saat waktu pergelaran tiba.

Wisma atlet, arena menembak, serta futsal adalah beberapa tempat yang masih belum siap digunakan sampai menjelang dimulainya PON. Bahkan ada yang ambruk akibat hujan. Ada pula tembok yang tembus oleh peluru dari atlet menembak.

Salah satu yang paling krusial adalah keluhan para atlet menembak yang bertanding di Rumbai Sports Center, Pekanbaru, Riau. Mereka mengeluhkan kondisi tempat lomba yang pengap dan berdebu. Hal itu membuat mereka tak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik ketika membidikkan peluru ke papan sasaran.

Gelagat dan sejarah buruk pesta olah raga antarprovinsi di tingkat nasional ini selalu menjadi cerita berulang. Tak heran seandainya ada usulan agar pergelaran ajang kompetisi empat tahunan itu dibubarkan saja.

Apalagi, target mencari bibit relatif tidak tercapai mengingat atlet lawas masih ikut bertanding mewakili ego provinsi yang berorientasi medali, bukan pembinaan.

Bahkan kisah perpindahan atlet yang dikenal dengan aturan mutasi — pindah dari satu provinsi ke provinsi lain, juga bukan cerita baru. Pada penyelenggaraan sebelumnya juga kerap terdengar dan terjadi.

Boleh jadi, inilah dampak yang disebut Ian Situmorang, wartawan senior olah raga sebagai lengketnya primordialisme dalam ajang PON. Bagi daerah, menjadi juara adalah segala-galanya. Iming-iming bonus pun dijadikan andalan, termasuk “membajak” pemain.

Namun bagaimana pun juga, PON adalah sejarah perjalanan olah raga Indonesia. Tak mudah menghapusnya. Lebih penting dari itu adalah perbaikan yang tak pernah berhenti.

PON, karena itu, harus dikembalikan pada fungsinya sebagai ajan pencarian bakat. Untuk itu, pembatasan usia peserta menjadi sangat penting yang harus dipertimbangkan menjadi sebuah kebijakan.

Tentu saja, pelaksanaan tata kelola penyelenggara yang bersih dari aroma korupsi harus dikawal, sehingga sarana yang sudah menghabiskan dana besar dari anggaran negara bisa ada keberlanjutannya dalam pemanfaatan.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...