Ponaryo Astaman Mengenang Pengalaman Berkostum PSM dan Berkembang Berkat Sentuhan Mendiang Miroslav Janu

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Ponaryo Astaman mengawali karier profesionalnya di Persiba Balikpapan dan kemudian membawa PKT Bontang menembus final Liga Indonesia 1999-2000. Tapi, ia tanpa sungkan menjadikan PSM Makassar sebagai tim yang membuat kemampuannya sebagai gelandang berkembang pesat dan akhirnya menembus skuad Timnas Indonesia senior untuk kali pertama pada 2003.

Dalam channel youtube Sportsmagz TV, Popon, sapaan akrabnya, mengungkapkan selepas tiga musim memperkuat PKT Bontang, ia memutuskan mengadu nasib ke PSM Makassar jelang musim 2003. Di tim Juku Eja, Ponaryo Astaman mendapat ilmu sepak bola dari pelatih legendaris PSM, Syamsuddin Umar dan kemudian Miroslav Janu (Republik Ceska).

Di bawah penanganan Janu, Popon tak hanya mendapatkan ilmu terkait taktik dan strategi tapi juga mental dan sikap petarung di lapangan.

"Almarhum Janu adalah pelatih yang hanya memainkan pemain yang siap secara fisik dan mental. Itulah mengapa seluruh pemain PSM kala itu harus menujukkan kemampuan dan kerja keras dalam latihan," ujar Popon.

Di PSM juga Ponaryo mengenal formasi 4-4-2 yang diterapkan Janu. Fomasi ini terbilang baru di persepakbolaan Indonesia. Sebelumnya, mayoritas tim di Tanah Air memainkan pola 3-5-2 dengan memakai satu libero atau sweeper di lini belakang.

Karakter disiplin dan tanpa pandang bulu ala Janu membuat seluruh pemain terpacu untuk menyesuaikan diri dengan strategi itu agar mendapatkan menit bermain di PSM. Penampilan Popon kian matang dan menonjol juga tak bisa dilepaskan dari peran Syamsul Chaeruddin, gelandang bertenaga dan enerjik yang menjadi duetnya di lini tengah.

Penampilan berkarakter keras ala Syamsul dalam mematikan pergerakan lawan di lini tengah membuat Popon lebih optimal sebagai penyeimbang dan sesekali membantu serangan tim. Tak pelak, pada musim keduanya bersama PSM, Ponaryo Astaman mendapat meraih penghargaan sebagai terbaik Liga Indonesia 2004 yang menerapkan sistem kompetisi penuh.

Dominasi PSM Di Timnas Indonesia

Ponaryo Astaman (Peksi Cahyo/Bola.com)
Ponaryo Astaman (Peksi Cahyo/Bola.com)

Meski hanya mampu membawa PSM meraih posisi runner-up secara beruntun pada musim 2003 dan 2004, pamor Popon kian meroket. Di PSM pula, ia pertama kali berkostum timnas senior pada ajang Pra Piala Asia yang berlangsung di Arab Saudi, 2003 silam.

"Yang membanggakan Timnas Indonesia akhirnya berhasil lolos ke putaran final yang berlangsung di China tahun 2004," terang Popon.

Seperti diketahui, pada putaran final di China, penampilan Popon sempat menarik perhatian lewat gol indahnya ke gawang Qatar di penyisihan grup. Kala itu, skuad Garuda menang dengan skor 2-1. Satu gol lainnya dicetak oleh Budi Sudarsono.

Hasil itu pula jadi kemenangan perdana Timnas Indonesia di level Piala Asia. Menurut Popon, pada 2003 dan 2004 adalah periode terbaik PSM meski hanya berstatus runner-up.

Saat itu, PSM menjadi penyumbang terbanyak pemain di skuad Garuda. Selain Popon, ada Syamsul, Ortizan Salossa, Charis Yulianto, Jack Komboy dan Irsyad Aras yang kerap masuk daftar panggil timnas.

Di level pemain asing, PSM juga memiliki nama-nama berkelas seperti Cristian Gonzales, Ronald Fagundez, Oscar Aravena dan Abanda Herman.

Selepas dari PSM, Popon kemudian berturut berkostum Melaka TMFC (Malaysia), Arema Malang, Persija Jakarta dan Sriwijaya. Popon sempat kembali ke Makassar memenuhi permintaan Sadikin Aksa, petinggi Boswoa Grup yang mengambil alih kepemilikan saham mayoritas PSM dari Medco Grup pada akhir 2013.

Sejalan dengan faktor usia, penampilan Ponaryo tak lagi sebaik ketika pertama kali membela PSM pada 2003. Popon sempat dipinjamkan ke Persija. Dan sebelum pensiun sebagai pemain, Ponaryo menghabiskan kariernya di Borneo FC.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini