Populisme di Tengah Pandemi COVID-19, Berisiko atau Bermanfaat?

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 mengubah dunia. Bukan hanya menyebabkan dampak kesehatan saja, namun sejumlah aspek. Dalam dunia politik, permasalahan ini kerap dikaitkan dengan populisme -- pendekatan yang dilakukan dengan menyebut kepentingan rakyat.

Menanggapi hal ini, Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menggelar Global Town Hall 2020 yang menghadirkan banyak pembicara guna membahas kebijakan luar negeri terutama di masa pandemi.

Dalam sesi bertajuk Populism and Nationalism during the Time of COVID-19, salah satu panelis yaitu Stephen Smith, Menteri Luar Negeri Australia (2007-2010) mengatakan bahwa risiko dan bahaya bisa terjadi dari populisme.

Terlebih hal itu dilakukan pemimpin dunia di masa krisis seperti ini. Namun di sisi lain, ia menyampaikan bahwa masih ada pemimpin dunia yang melakukan pekerjaan dengan baik selama krisis tersebut.

"Saya rasa risiko dan bahaya populisme selalu ada di saat negara, kawasan atau dunia mengalami krisis. Baik itu bersangkutan dengan krisis keamanan maupun ekonomi," ujar Stephen Smith dalam Global Town Hall 2020 secara virtual.

"Jika permasalahan ini terjadi, maka sangat mudah populisme berkembang. Tahun ini, di mulai dari akhir tahun lalu, kita melihat seluruh dunia mengalami perubahan. Banyak bangsa mengalami krisis pandemi. Sehingga dibutuhkan solusi yang cepat yaitu ketersediaan vaksin dalam menanggulangi masalah ini demi keamanan ekonomi dunia."

Menurut Stephen Smith, banyak tokoh dan pemimpin negara yang telah melakukan pekerjaannya dengan baik.

"Ada sejumlah bukti bahwa sejumlah pemimpin dunia melakukan tindakan dengan baik lewat kajian ilmu . Seperti Korea, Taiwan ataupun Australia. Sejumlah negara itu melakukan pekerjaan yang baik dalam situasi berat ini."

"Jika di Eropa dan Inggris kita melihat ada Boris Johnson yang dari waktu ke waktu terus mendorong terciptanya solusi."

Kajian Peneliti Dianggap Penting

Sementara itu, menurut Dewi Fortuna Anwar, Co-Founder of Foreign Policy Community of Indonesia, pandemi Corona COVID-19 membuat populisme semakin kuat.

Terlebih saat dunia dihadapkan dengan penyebaran Virus Corona COVID-19 yang ditemukan di sebuah desa kecil di China ke seluruh dunia dalam waktu yang begitu singkat.

"Solusi langsungnya tentu saja, mengunci perbatasan. Namun hal ini tentunya berdampak pada jalannya perdagangan internasional, pariwisata dan investasi."

"Sama seperti yang disampaikan oleh Prof Stephen Smith, hal ini memperkuat hubungan pemimpin dunia. Namun, tak ada satupun di dunia dapat mengatasi permasalahan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. Terutama triple impact of COVID-19."

"Pertama adalah layanan kesehatan, kedua dampak ekonomi dan ketiga permasalahan sosial. Oleh karenanya, dunia butuh bekerja sama. Dan para pemimpin dunia harus mendengarkan kajian dari peneliti."

Dalam kondisi ini, menurut Dewi Fortuna Anwar para pemimpin dunia semua menghadapi banyak tantangan di masa pandemi COVID-19.

Populisme di Amerika Serikat

Aktivis dari COVID Memorial Project meletakkan ribuan bendera Amerika berukuran kecil di di halaman National Mall di Washington, Selasa (22/9/2020). Ribuan bendera itu menandai 200 ribu nyawa yang hilang akibat virus corona Covid-19 di Amerika Serikat. (AP Photo/J. Scott Applewhite)
Aktivis dari COVID Memorial Project meletakkan ribuan bendera Amerika berukuran kecil di di halaman National Mall di Washington, Selasa (22/9/2020). Ribuan bendera itu menandai 200 ribu nyawa yang hilang akibat virus corona Covid-19 di Amerika Serikat. (AP Photo/J. Scott Applewhite)

Dalam sesi tersebut, salah satu pembicara yang menyampaikan pemaparannya adalah Ameshia Cross dari Democratic Strategist and Political Commentator. Ia menilai populisme di Amerika Serikat kian tumbuh. Hal inilah yang ia sampaikan dalam perspektif orang Amerika.

"Dari aspek orang Amerika dan melihat apa yang telah terjadi di sini selama beberapa tahun terakhir. Populisme sedang meningkat, bahkan jauh sebelum Presiden Trump," ujar Ameshia Criss.

"Itu adalah sesuatu yang telah saya pelajari dan tulis selama beberapa dekade. Apa yang telah kami lihat adalah kapanpun Anda memiliki populasi imigran yang jumlahnya meningkat kapan pun Anda memiliki elit yang berkuasa maka itu akan meningkat," jelasnya.

"Saya berpendapat bahwa populisme di Amerika telah ada untuk generasi di seluruh negeri ini dan apa yang telah kita lihat selama beberapa tahun terakhir."

Populisme di tengah pandemi kian menjadi perbincangan. Bagaimana sebuah negara mengatasi permasalahan pandemi COVID-19.

Dengan benar-benar mengedepankan kepentingan rakyat dan bukan pribadi atau berkaitan dengan kekuasaan. Para pemimpin juga diminta untuk selalu bersinergi dengan dunia sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19.

Saksikan Video Berikut Ini: