Porsi Kredit untuk Usaha Mikro Sangat Kecil, Padahal Serap Banyak Tenaga Kerja

Merdeka.com - Merdeka.com - Kepala Divisi Pengawasan dan Monitoring Permodalan Nasional Madani (PNM), Octo Wibisono mengakui bahwa adanya ketimpangan penyaluran kredit di Indonesia, terutama dari sektor mikro maupun di sektor usaha besar.

Menurut skema data dari Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2019, terlihat bahwa sekitar 75 persen penyaluran kredit itu untuk sektor besar sedangkan 25 persen itu untuk sektor menengah dan mikro.

Kendati demikian, serapan pekerja maupun jumlah usaha yang paling besar yakni dari mikro sebanyak 65,6 juta atau 98 persen jenis usaha. Sementara dalam penerapan tenaga kerja hampir 90 persen yang diserap oleh sektor mikro.

"Dari serapan pekerja maupun jumlah usaha, mikro lah yang paling besar menyerapnya, mereka yang mengandalkan hidupnya di sektor mikro," ujar Octo, Jakarta, Rabu (21/9).

Okto menjelaskan golongan yang paling bawah yaitu ultra mikro merupakan golongan yang paling resilient yang memiliki daya tahan paling tinggi dan kuat. Dari pandemi covid 19 di tahun 2020-2021, pihaknya sendiri masih bisa tumbuh, untung dan dapat melayani usaha mikro ultra bahkan mampu tumbuh dengan kualitas yang baik.

Fokus ke Sektor Mikro

"PNM fokus ke sektor mikro kecil atau sektor ultra mikro mau tidak mau kita harus tetap tumbuh, tetap melayani sektor ultra mikro sendiri, karena kalau tidak ekonomi bisa bahaya bisa tidak tumbuh itu kira-kira. Kenapa kita tetap berani? kuncinya satu kita harus melakukan pendampingan bisnis," terang dia.

Dia menyebut, yang dilakukan oleh pihaknya terhadap sektor ultra mikro di Indonesia tidak hanya memberikan akses pendanaan saja, tetapi juga memberikan tiga modal lainnya yakni modal finansial, modal intelektual dan modal sosial.

"Untuk modal finansial kami berikan dalam bentuk pembiayaan, kita punya produk yang namanya PNM Mekar maupun ulam yang dua-duanya masuk ke sektor mikro maupun ultra mikro," kata dia. [idr]