Potensi ekonomi dari aktivitas kurban di Batam capai Rp120 miliar

Legislator DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Wahyu Wahyudin menyatakan potensi perputaran ekonomi dari aktivitas kurban pada hari raya Idul Adha, khususnya di Kota Batam sekitar Rp120 miliar setiap tahunnya.

"Itu perkiraan jika dihitung dari kegiatan jual beli hewan kurban sapi/kambing selama sebulan jelang Idul Adha," kata Wahyudin di Tanjungpinang, Rabu.

Namun demikian, kata dia, saat ini Batam tengah mengalami kekurangan hewan kurban mencapai ribuan ekor. Stok sapi/kambing yang ada sekarang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat dalam beberapa hari ke depan.

Menurutnya, jika dalam waktu dekat tak ada ternak sapi/kambing yang masuk ke Batam, maka krisis hewan kurban di daerah itu tak dapat dihindari.

Baca juga: Pedagang Batam disarankan beli sapi dari Bali

Baca juga: Total kurban di Batam 904 sapi dan 1.876 kambing

"Kasihan pedagang tak dapat menikmati hasil penjualan hewan kurban, yang biasanya tiap tahun dapat mereka nikmati. Di sisi lain, warga yang sudah menabung untuk berkurban, juga tak kesampaian niatnya," ucapnya.

Oleh karena itu, Wahyudin mengajak pemerintah daerah mendesak pemerintah pusat agar memberikan kelonggaran pengiriman ternak sapi/kambing dari daerah atau provinsi lain ke Batam.

Hal ini mengingat pengaturan lalu lintas pengiriman hewan kurban menjadi kewenangan pemerintah pusat.

"Pusat memang melarang pengiriman hewan kurban antarprovinsi untuk mencegah penyakit mulut dan kuku (PMK), tapi seharusnya ada keringanan karena daerah kita bukan penghasil ternak sapi/kambing," ujar Wahyudin.

Sementara, Sekretaris Daerah Provinsi Kepri Adi Prihantara mengakui Batam minus hewan kurban sekitar 1.000 ekor jelang Hari Raya Idul Adha 2022.

Pihaknya sudah meminta pemerintah pusat memberikan diskresi khusus terkait kelonggaran pengiriman sapi/kambing dari daerah zona hijau atau aman dari paparan PMK ke daerah setempat. Sehingga, kebutuhan hewan kurban di Batam tercukupi dan dapat mendongkrak perekonomian daerah di tengah pandemi COVID-19.

"Kita harap sapi dari Lampung bisa masuk ke Kepri, karena ada beberapa kabupaten/kota di sana tidak terpapar PMK," sebut Adi.

Pemprov Kepri masih menunggu tanggapan pemerintah pusat menyangkut pengiriman hewan kurban lintas provinsi.

Menurutnya, persyaratan lalu lintas hewan kurban saat ini memang ketat untuk mencegah masuknya PMK, karena apabila suatu wilayah ada ternak sapi/kambing terpapar wabah itu, maka perlu waktu lama dan biaya besar untuk pemulihannya.*

Baca juga: Warga Singapura berkurban di Batam

Baca juga: Muslim Singapura sumbang 30 kurban ke Batam

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel