Potensi Idul Fitri sebagai palagan kebangkitan dari pandemi

“Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Laailahailallahu wallahu akbar,” kumandang takbir menggema pada Senin pagi (2/5) di sejumlah masjid, tidak terkecuali di Masjid Mardotillah, Kecamatan Buah Batu, Bandung.

Warga pun mulai berbondong-bondong membawa serta sajadah dan koran untuk alas shalat mereka.

Hujan yang mengguyur Kota Kembang pada malam takbiran masih menyisakan aspal basah dan embun dingin pagi itu.

Pengurus masjid tak henti-hentinya melantunkan takbir melalui mikrofon hingga ke pengeras suara.

Selain itu ada pengurus yang mengatur shaf atau jejeran untuk shalat, maupun menyediakan masker di jalan masuk ke area shalat.

Warga begitu bersemangat menyambut Lebaran 1 Syawal 1443 Hijriah ini, karena memang pada dua tahun sebelumnya segala bentuk kegiatan di masjid maupun mudik ke kampung halaman dibatasi.

Saling sapa, salam dan canda mewarnai beberapa bapak yang jalan berbarengan menuju masjid, mungkin untuk menghangatkan suasana di tengah sejuknya angin pukul 05.30 WIB itu.

Lebaran tahun ini tentunya berbeda. Semangat tradisi Lebaran dan kegiatan keagamaan mulai kembali setelah sebelumnya tertahan akibat pandemi.

Kendati masih dalam kondisi pandemi COVID-19, namun pemerintah percaya diri untuk memperbolehkan kegiatan mudik tahun ini.

Perayaan hari Idul Fitri 1 Syawal 1443 Hijriah yang bertepatan pada 2 Mei 2022 dilaksanakan dengan semarak oleh masyarakat di Indonesia mengingat momen ini menjadi kali pertama diperbolehkannya kegiatan mudik Lebaran.

Tidak seperti dua tahun sebelumnya dimana mudik dilarang dan lalu lintas kendaraan dibatasi, kegiatan pulang kampung pada 2022 sudah diperbolehkan dengan ketentuan telah vaksinasi booster (penguat).

Pemerintah cukup yakin untuk memperbolehkan masyarakat melakukan mudik saat Lebaran 2022.

Presiden Jokowi pun menyampaikan hal tersebut sejak dua bulan sebelum Lebaran.

“Bagi masyarakat yang ingin melakukan mudik lebaran juga dipersilahkan, juga diperbolehkan, dengan syarat sudah mendapatkan dua kali vaksin dan satu kali booster,” kata Presiden saat konferensi pers secara virtual dari Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/3).

Pemerintah mempertimbangkan diperbolehkannya mudik setelah dua tahun dibatasi karena kondisi pandemi COVID-19 yang semakin membaik.

Baca juga: PMI nilai kepatuhan masyarakat terhadap prokes tinggi selama mudik
Baca juga: Pengamat: Orang tua jadi contoh untuk anak taat prokes saat mudik

Jangan luput 3M

Menurut data dari laman COVID19.go.id, jumlah kasus harian terkonfirmasi positif berangsur menurun drastis dari angka tertinggi terakhir dicatat pada 16 Februari yang mencapai 64.718 kasus.

Kemudian Satgas Penanganan COVID-19 mencatat jumlah kasus terkonfirmasi positif pada 16 Maret yakni 13.018 kasus, lalu pada 16 April sebanyak 602 kasus terkonfirmasi positif.

Sementara data kasus positif sepekan terkini mulai 29 April hingga 5 Mei berturut-turut yakni 395 kasus, 329 kasus, 244 kasus, 168 kasus, 107 kasus, 176 kasus, dan 250 kasus.

Kendati jumlah kasus terkonfirmasi positif masih jauh berada di bawah titik tertinggi pada Februari, namun masyarakat perlu belajar dari peningkatan kasus sebelumnya yang terjadi setelah periode liburan.

Oleh karena itu, pemerintah tetap menekankan agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat pada saat mudik atau liburan lebaran untuk menekan potensi penularan SARS-CoV-2.

“Pergi berbelanja, mengunjungi kerabat, menghadiri kegiatan maupun beribadah di masjid tidak boleh terlepas dari kebiasaan memakai masker yang benar," kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam jumpa pers bertema "Perkembangan Penanganan COVID-19 di Indonesia" di Jakarta, Selasa (5/4).

Masyarakat juga turut bertanggung jawab untuk menghindari peningkatan penularan kasus saat libur Lebaran 2022.

Setiap fasilitas publik pun diimbau untuk memiliki satgas protokol kesehatan yang harus mengingatkan 3M (Mencuci tangan, Memakai masker, dan Menjaga jarak).

Menurut Instruksi Menteri Dalam Negeri No 22 Tahun 2022 Tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 3, Level 2, dan Level 1 COVID-19 di Jawa dan Bali, fasilitas rumah ibadah seperti masjid juga tetap harus membatasi jumlah jamaah.

“Dapat mengadakan kegiatan peribadatan/keagamaan berjamaah selama masa penerapan PPKM Level 3 dengan maksimal 50% kapasitas dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat dengan memperhatikan ketentuan teknis dari Kementerian Agama,” demikian penjelasan terkait kegiatan di tempat ibadah pada poin keempat Inmendagri No 22 itu.

Sementara itu, lokasi keramaian seperti tempat wisata juga harus membatasi jumlah pengunjung hingga separuhnya dan menerapkan protokol kesehatan.

“Fasilitas umum (area publik, taman umum, tempat wisata umum dan area publik lainnya) dibuka dengan kapasitas maksimum 50% (lima puluh persen),” demikian poin K dalam Inmendagri itu.

Pengunjung diwajibkan mengenakan masker dan berkategori hijau pada aplikasi Peduli Lindungi.

Pengelola lokasi wisata atau perbelanjaan juga tidak boleh lengah dalam mengawasi penerapan prokes.

“Arahan dari Bapak Presiden kita harus hati-hati dan waspada, jangan sombong dan jemawa. Kita bisa melakukan pergerakan dengan lebih normal, tapi tetap harus hati-hati dan waspada. Paling penting adalah pakai masker, masker itu sudah menjadi gaya hidup,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi seusai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo di Jakarta pada 18 April lalu.

Itu semua perlu dilakukan untuk menghindari lonjakan kasus COVID-19 yang seperti sebelumnya kerap terjadi usai liburan panjang.

Upaya tersebut perlu untuk menjadi perhatian tidak hanya oleh pemerintah tetapi juga seluruh masyarakat mengingat kasus COVID-19 di beberapa negara mengalami lonjakan, seperti di China maupun AS.

Bahkan pemerintah mengimbau WNI untuk tidak berlibur ke luar negeri saat libur Lebaran kali ini.

“Kita harus tetap waspada, dan kita lihat di beberapa negara termasuk di Shanghai, China itu terjadi kenaikan. Tentu kita tidak ingin bahwa kenaikan tersebut membawa virus yang nanti dibawa oleh Pelaku Perjalanan Luar Negeri kita ke dalam negeri,” demikian Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah rapat tersebut.

Baca juga: Pengamat: Mudik berdampak positif bagi kinerja perekonomian
Baca juga: Dunia usaha prediksi perputaran uang selama libur Lebaran Rp42 triliun

Dorong pemulihan ekonomi

Selain dimaknai sebagai kembali ke fitri, Lebaran pada 2022 ini dapat memiliki makna khusus yang dirasa tepat yakni pulih bersama bangkit dari pandemi.

Tidak hanya kegiatan masyarakat yang kembali, namun mudik juga diharapkan dapat mendorong ekonomi di seluruh daerah.

Survei Kementerian Perhubungan memprediksi sebanyak 85 juta orang melakukan mudik pada tahun ini.

Potensi peningkatan perekonomian di daerah dapat didukung melalui pergerakan masyarakat yang dapat menghidupkan kegiatan ekonomi di daerah.

“Memang sudah kita targetkan salah satu momentum Lebaran ini diupayakan untuk mendorong dan memicu pemulihan ekonomi nasional kita setelah dua tahun mengalami hibernasi,” demikian Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pada Selasa (3/5).

Menurut dia, kegiatan pemudik di kampung halaman seperti berkunjung ke tempat wisata, hingga berburu kuliner dapat mendorong perkembangan ekonomi.

Sementara itu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga S Uno menilai dari total jumlah tersebut, pemudik yang diperkirakan melakukan kegiatan pariwisata bisa mencapai 40 hingga 60 persen, atau sekitar 48 juta pemudik.

“Saya melihat bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan nusantara itu sekitar Rp1,5 juta dan ini juga kalau kita lihat dari 48 juta pemudik, maka ada Rp72 triliun,” kata Sandiaga menjelaskan potensi sektor wisata saat periode mudik Lebaran 2022.

Mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu memproyeksi nilai tersebut tersebar di sejumlah daerah dengan besaran 60 persen di Pulau Jawa, 20 persen di bagian wilayah barat Indonesia, dan 20 persen lagi berada di wilayah Timur Indonesia.

Tentunya Lebaran kali ini begitu bersejarah, selain dorongan bagi perekonomian bangsa, kegiatan mudik lebaran dapat menjadi lebih sukses apabila tingkat kasus positif COVID-19 tidak melampaui titik tertinggi dari sebelumnya.

Ketertiban dan kepatuhan bersama dalam menerapkan protokol kesehatan menjadi kunci yang sangat diperlukan dalam menghindari penularan COVID-19.

Jika tidak terjadi kenaikan jumlah penularan COVID-19 yang signifikan usai periode libur, maka momen Lebaran tahun ini dapat dikatakan sebagai palagan titik balik kebangkitan bangsa dari pandemi yang mendera.

Baca juga: Epidemiolog: Tetap disiplin prokes dalam perjalanan mudik
Baca juga: Menyambut berkah UMKM Lampung di area simpul transportasi saat mudik

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel