Potential Gains 10-15%: Manfaatkan Momentum Saham Komoditas!

  • Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    Merdeka.com
    Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    MERDEKA.COM. Bank Indonesia (BI) mengeluarkan data terbaru mengenai utang luar negeri Indonesia. Per Februari 2014, utang luar negeri Indonesia tembus USD 272,1 miliar atau setara dengan Rp 3107,4 triliun. utang ini terdiri dari utang luar negeri pemerintah dan bank sentral sebesar USD 129 miliar serta utang luar negeri swasta sebesar USD 143 miliar. ... …

  • Ini bahayanya jika Indonesia bergantung pada utang Singapura

    Ini bahayanya jika Indonesia bergantung pada utang Singapura

    Merdeka.com
    Ini bahayanya jika Indonesia bergantung pada utang Singapura

    MERDEKA.COM. Koalisi Anti Utang (KAU) menyebut ketergantungan Indonesia pada utang asing khususnya pada Singapura berbahaya. Pasalnya, jika terjadi konflik, maka Singapura dapat menghancurkan Indonesia melalui aspek utang.Ketua KAU, Dani Setiawan, menuding Singapura sebetulnya hanya broker atau kepanjangan tangan investor dari negara Eropa. Maka dari itu, mereka memegang kendali supply utang."Dalam skenarionya seperti itu, di mana Singapura selama ini menjadi posisi tuan rumah lembaga investasi …

  • Utang luar negeri Indonesia konsisten naik, tembus Rp 3107 T

    Utang luar negeri Indonesia konsisten naik, tembus Rp 3107 T

    Merdeka.com
    Utang luar negeri Indonesia konsisten naik, tembus Rp 3107 T

    MERDEKA.COM. Bank Indonesia (BI) melansir data terbaru mengenai utang luar negeri Indonesia. Per Februari 2014, utang luar negeri Indonesia tembus USD 272,1 miliar atau setara dengan Rp 3107,4 triliun. Angka utang ini konsisten naik dari bulan sebelumnya yang hanya USD 269,7 miliar. …

INILAH.COM, Jakarta – Hingga akhir tahun, para analis menargetkan penguatan saham-saham di sektor komoditas 10-15%. Strateginya, manfaatkan momentum hijaunya IHSG dengan pola trading buy. Tertarik?

Pada perdagangan Selasa (18/12/2012) saham PT BW Plantation (BWPT.JK) ditutup menguat Rp20 (1,45%) ke posisi Rp1.390; PT London Sumatera Plantation (LSIP.JK) melemah Rp25 (1,20%) ke angka Rp2.050; PT Astra Agro Lestari (AALI.JK) turun Rp650 (3,47%) ke posisi Rp18.050; dan PT Salim Ivomas Pratama (SIMP.JK) stagnan di Rp1.050.

Di sektor pertambangan, saham PT Indo Tambang Raya Megah (ITMG.JK) turun Rp200 (0,47%) ke angka Rp41.500; PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA.JK) melandai Rp400 (2,54%) ke posisi Rp15.300; PT Adaro Energy (ADRO.JK) stagnan di Rp1.590; PT Harum Energy (HRUM.JK) bergeming di Rp6.050; dan PT Vale Indonesia (INCO.JK) tetap di Rp2.325.

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, untuk saham-saham komoditas baik pertambangan ataupun perkebunan, pemodal bisa memanfaatkan momentum penguatan IHSG secara keseluruhan. Menurut dia, meski rata-rata laba bersih emiten sektor komoditas mengalami penurunan, tapi tidak mencatatkan angka yang negatif.

Potensi penguatan saham-saham komoditas, kata dia, juga karena banyak pelaku pasar yang melihat pergerakan sektor lain sudah jenuh sehingga melirik saham-saham komoditas yang masih berada di area oversold (jenuh jual). “Karena itu, saham komoditas jadi sasaran untuk diangkat harganya hingga akhir 2012,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta,  Selasa (18/12/2012).

Di sektor komoditas perkebunan, salah satu saham yang bisa dipertimbangkan adalah BWPT seiring akan terjadinya window dressing dan kondisi pasar yang mendukung. Begitu juga untuk saham LSIP, AALI, dan SIMP yang berkapitalisasi besar dan likuid.

Bisa dipertimbangkan juga saham-saham pertambangan yang sudah mulai upreversal (balik arah menguat) seperti ITMG, PTBA, ADRO, dan HRUM. “INCO  juga bisa dipertimbangkan seiring rencana pembagian dividen,” ujarnya.

Reza mengharapkan, jika kondisi pasar mendukung, pembalikan arah menguat pada saham-saham sektor komoditas bisa bertahan hingga akhir 2012. “Terutama jika sentimen positif bertahan,” timpal dia.

Dia menyarankan pemodal untuk tidak buru-buru menjual saham-saham tersebut selama sentimen positif masih menyelimuti pasar. “Saham-saham tersebut, bisa menguat 10-15% hingga akhir tahun seiring momentum window dressing,” tandas Reza.

Namun demikian, Reza menggarisbawahi, meski disarankan tidak buru-buru jual, tapi saham-saham tersebut juga tidak bisa beli untuk disimpan terlalu lama meski ada potensi penguatan 10-15% hingga akhir tahun. “Sahamnya tersebut hanya cocok untuk trading buy dengan horison jangka pendek dan memanfaatkan momentum pasar secara keseluruhan yang menghijau,” ungkap dia.

Pasalnya, kata dia, harga kontrak komoditas seperti batu bara, nikel, dan Crude Palm Oil (CPO) belum naik signifikan. “Kecuali, jika perekonomian global pulih 100% di mana saham-saham komoditas bisa di-hold hingga tahun depan,” tuturnya.

Reza menambahkan, harga batu bara masih berkutat di level US$80-90 per metrik ton dan belum ada tanda-tanda mengarah ke US$100 per metrik ton. Begitu juga dengan nikel yang masih bergerk di US$17.300-US$17.400 dan belum terlihat akan menyentuh US$18.000 per metrik ton hingga akhir tahun.

Harga CPO juga mengalami nasib serupa yang masih bertenger di level US$749 per barel yang sebelumnya berada di angka US$756 per barel. “Tapi, harga saham komoditas naik. Artinya, secara riil di lapangan, memperlihatkan adanya peralihan ke saham komoditas karena harganya belum terangkat,” ucapnya.

Dihubungi terpisah, pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, penurunan laba pada emiten-emiten batu bara dan perkebunan dipicu oleh harga dari produk inti yang turun. “Hampir semua emiten batu bara dan perkebunan masih mencatatkan kinerja profit yang positif tapi tidak sebagus tahun lalu,” tuturnya.

Meski laba turun, Sem justru melihat, saat ini merupakan momentum kebangkitan saham-saham di sektor komoditas seiring aksi akumulasi dari para investor. “Lihat saja, kenaikan LSIP yang sudah lumayan,” ucap dia.

Di sektor perkebunan Sem merekomendasikan saham LSIP dan di sektor batu bara dia memilih saham PTBA. “Dua saham ini merupakan saham unggulan di sektor komoditas. Tapi, untuk masuk, harus tunggu turun dulu (pull back),” ungkap dia.

Dia menegaskan, LSIP dan PTBA merupakan dua saham terbaik di sektornya secara fundamental. “Karena itu, kalau turun 5% dari Rp15.850 untuk PTBA dan dari Rp2.125 untuk LSIP saya rekomendasikan beli dengan target kenaikan harga 10% hingga akhir tahun. Itu sepertinya gampang dicapai,” imbuh Sem dengan nada sangat optimistis.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...