Pound: IOC bertekad tetap selenggarakan Olimpiade Tokyo

Los Angeles (AFP) - Para pemimpin Olimpiade tak akan mempertimbangkan pembatalan atau penundaan Olimpiade Tokyo musim panas ini gara-gara virus corona kecuali jika Organisasi Kesehatan Dunia atau badan pengawas lainnya menyarankan untuk melakukan hal itu, kata seorang pejabat senior IOC, Kamis.

Anggota senior Komite Olimpiade Internasional (IOC) Dick Pound mengatakan kepada AFP bahwa belum ada pembicaraan mengenai kemungkinan pembatalan Olimpiade akibat wabah COVID-19.

Pound mengatakan IOC hanya akan berusaha mengatur ulang Olimpiade Tokyo jika diberi saran khusus untuk melakukan hal seperti itu oleh otoritas-otoritas internasional.

"IOC dan panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo tak akan membatalkan atau menunda atau menempuh hal lain sehubungan dengan Olimpiade ini tanpa adanya peringatan atau aturan yang sangat serius dan spesifik yang berasal dari WHO atau otoritas-otoritas regulasi terkait," kata Pound kepada AFP.

Sejauh ini, kata Pound, IOC belum membahas kemungkinan menghentikan Olimpiade ini.

"IOC sama-sama berkomitmen untuk terus memajukan proyek ini yang telah direncanakan selama enam setengah tahun terakhir," kata dia.

"Kecuali jika ada situasi dunia yang sangat serius sehingga Olimpiade ini tidak boleh digelar atau bahwa otoritas-otoritas regulasi melarang perjalanan atau hal-hal semacam itu, kami tetap menyelenggarakannya.

"Tapi akan tidak bertanggung jawab jika terus melanjutkan tanpa setidaknya dalam benak Anda bahwa ada yang mungkin terjadi."

Ketika ditanya mengenai pesan kepada para atlet yang bersiap mengikuti Olimpiade yang akan digelar pada 24 Juli - 9 Agustus itu, Pound menjawab: "Teruslah berlatih. Kami masih berkomitmen untuk Tokyo tahun ini."

"Tapi pahamilah dan waspadalah mungkin ada gajah di ruangan itu (ada masalah besar di depan mata)."

Wabah COVID-19 sudah menimbulkan gangguan serius di Jepang yang memaksa pembatalan dan penundaan segala hal, mulai dari pertandingan sepak bola hingga ritual yang menandai pembukaan turnamen sumo pada Maret.

Pada Kamis, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mendesak sekolah-sekolah di seluruh negeri untuk tutup selama beberapa pekan guna mencegah penyebaran virus corona.

Seruan Abe muncul setelah pemerintah Jepang mendorong para penyelenggara event-event besar untuk mempertimbangkan pembatalan event-event tersebut, dan menyeru kalangan bisnis untuk membolehkan karyawan bekerja dari rumah.

Pound, sementara itu, mengatakan tidak ada jadwal pasti kapan keputusan soal masa depan Olimpiade Tokyo akan diambil.

"Namun, pada titik tertentu, entah itu dua bulan atau satu bulan, orang harus memutuskan 'Ya' atau 'Tidak'," kata Pound.

"Banyak hal yang mungkin tergantung kepada data yang masuk saat kita melangkah lebih jauh. Anda hanya harus menunggu dan melihat serta memastikan bahwa data yang Anda peroleh bisa diandalkan."

"Bertindak cepat tanpa informasi yang benar dan melakukannya terlalu dini adalah gila sekali."

Pound menambahkan bahwa IOC akan lebih mengeksplorasi kemungkinan penyelenggaraan Olimpiade hingga setahun kemudian, dari pada memesan pembatalan secara menyeluruh Olimpiade.

"Pembatalan adalah akibat terburuk," kata Pound. "Jika sampai pada tahap itu, dugaan saya adalah bakal ada upaya bersama dengan semua pihak guna melihat apakah penundaan akan berhasil atau tidak.

"Anda harus duduk bersama dengan panitia penyelenggara Tokyo dan mungkin pemerintah Jepang pada umumnya dan berkata 'Sekarang dengarkan - apakah Anda mampu bertahan selama satu tahun?' Apakah kita akan bisa mendapatkan fasilitas? Bisakah pemesanan hotel bisa dimundurkan selama setahun? Bisakah Anda mengelola tiket? Apakah Anda mau melakukan hal ini? "

"Karena kamu tak mau kehilangan Olimpiade jika Anda bisa menghindarinya. Jadi pembatalan, tak ada yang menang. Penundaan -Anda bisa saja menang dan akan ada mitigasi terhadap seluruh kerusakan karena melakukan itu."