PPI-UK Ingin Transparansi dan Kerja Sama DPR

London (ANTARA) - Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK) menginginkan transparansi dan melakukan kerja sama dengan DPR RI yang melakukan kunjungan ke luar negeri khususnya ke Inggris.

Hal itu disampaikan Ketua PPI UK, Haikal Bekti Anggoro, dalam pertemuan dengan tim Badan Legislatif DPR RI dalam acara ramah tamah diadakan di Ruang Crutacala KBRI London, yang dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris dan Irlandia Utara, TM Hamzah Thayeb, beserta staf KBRI dan perwakilan PPI UK, Rabu.

Dalam pertemuan tersebut mahasiswa membahas beberapa topik dan meminta para delegasi Tim Badan Legislatif DPR yang tengah mengadakan kunjungan kerja di London dipimpin Dimyati Natakusuma untuk memberikan penjelasan mengenai kunjungan kerja ke London.

Sebelumnya PPI UK membacakan pernyataan sikap dari aliansi PPI Eropa dan Amerika terhadap kunjungan kerja maupun studi banding, seperti tercantum di website PPI UK .

PPI UK pun menyampaikan kecewanya terhadap Ketua DPR RI, Marzuki Alie terhadap pernyataannya mengenai pelajar Indonesia di luar negeri. PPI UK menyatakan, pelajar Indonesia belajar di luar negeri karena ingin berkontribusi di Indonesia kelak sekembali ke Tanah Air untuk meningkatkan kualitas universitas di Indonesia.

Dalam kesempatan itu Haikal Bekti Anggoro menyampaikan beberapa poin yang menjadi bahan kerja sama antara DPR RI dan PPI UK dan memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan rombongan DPR RI dapat kembali ke masyarakat Indonesia dalam bentuk kebijakan yang bermanfaat.

Selain itu, PPI UK juga berharap dengan koordinasi tersebut, setiap rombongan DPR RI yang hadir dapat bertemu dan berdiskusi dengan pelajar Indonesia yang ahli di bidangnya.

Sementara itu, Dimyati Natakusuma menyatakan kunjungannya ke Inggris cukup bermanfaat dan menyebutkan di UK tidak terdapat UU yang mengatur Keinsinyuran, melainkan hanya terdapat badan regulasi independen bernama "Engineering Council".

Ia membandingkan walaupun tanpa UU Keinsinyuran, badan regulasi di UK tetap dapat bekerja, sementara di Indonesia hal tersebut tidak dapat dilaksanakan.

Untuk diketahui, Badan Legislasi tersebut telah mengunjungi British Parliament, Department for Business, Innovation and Skills dan Royal Academic of Engineering. Selain itu mengunjungi Institution for Civil Engineers and UK Engineering Council dan akan melakukan pertemuan dengan Royal Institute of British Architect.

Pemimpin rombongan menyatakan alasan mengunjungi UK karena rombongan menilai proyek yang ada di UK yang terbaik di dunia dan ingin membandingan antara ada dan tidak adanya UU Keinsinyuran sebuah negara.

Dimyati Natakusuma mengakui ada juga kunjungan DPR RI maupun pemerintah yang mungkin kurang dapat dipertanggung jawabkan.

Dalam kesempatan itu ia juga mendukung kegiatan yang dilakukan PPI UK yang merangkul mahasiswa Indonesia di luar negera diharapkan akan bermanfaat saat kembali ke Tanah Air.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk UK dan Irlandia Utara, Hamzah Thayeb, mengakui, kalau dirinya memang sebagai dutabesar RI di Inggris. Kalau saya ini memang Duta Besar. Namun Duta Besar sebenarnya adalah kalian sebagai pelajar," ujarnya.

Dalam dialog terbuka, PPI UK menawarkan pembahasan RUU Keinsinyuran dengan para pelajar, di antaranya DPR RI perlu memahami sistem Pemerintahan Inggris yang berbentuk demokrasi parlemen dengan konstitusi monarki.

PPI UK minta Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di seluruh dunia mendapat kesempatan untuk memberi masukan kepada tim DPR RI yang berkunjung ke luar negeri seperti yang dilakukan PPI UK .


Haikal Bekti Anggoro berharap adanya jalinan kerja sama antara PPI UK dan DPR RI di masa datang dengan mengadakan acara diskusi, dan berbagai bentuk lainnya. (tp)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.