PPKM Darurat di Jatim, TNI-Polri Blusukan Kampanyekan 5M

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto menjelaskan, situasi Jawa Timur saat ini cukup memprihatinkan akibat Covid-19. Pada Kamis 1 Juli, penambahan angka positif merupakan tertinggi sejak pandemi Covid-19.

"Angka kesembuhan di atas 300, tetapi yang meninggal cukup banyak, dan Jawa Timur merupakan penyumbang angka kematian tertinggi di seluruh Indonesia," ujarnya saat Apel gelar pasukan dalam rangka PPKM Darurat di wilayah Jawa Timur, Jumat (2/7/2021).

Suharyanto mengungkapkan, gelar apel pasukan ini dilakukan secara serentak di Surabaya Raya, Malang Raya, Madiun Raya, wilayah Tapal kuda dan di Mojokerto. Selanjutnya, pasukan akan masuk ke wilayah penugasan di seluruh wilayah Kabupaten/Kota di Jatim.

"Nantinya anggota akan langsung masuk ke RT/RW, dengan total pasukan yang berbeda-beda disesuaikan dengan ancaman penyebaran Covid-19 yang berbeda-beda pula," ujarnya.

"Operasi akan dimulai 3 hingga 20 Juli 2021, tidak menutup kemungkinan diperpanjang bila penurunan Covid-19 dinilai belum berhasil dan tugasnya yakni memperkuat empat pilar pelaksanaan PPKM Mikro Darurat di suatu wilayah yaitu kepala desa, dokter puskesmas, Babinkantibmas dan Babinsa," ucapnya.

Suharyanto mengungkapkan, empat pilar ini akan melaksanakan 5M di desa tersebut, bagi masyarakat yang belum memakai masker wajib menggunakan masker, jika ada kerumunan lebih dari tiga orang harus dibubarkan.

"Jika ada yang makan di warung tidak boleh namun harus take away atau bawa pulang, sehingga warung harus tutup jam 20.00 WIB. Masyarakat tidak boleh salat berjamaah terlebih dahulu dan harus ditutup, dan tempat wisata juga harus tutup," ujarnya.

Selain itu anggota yang diterjunkan, lanjut Suharyanto, nantinya juga akan membantu bidan desa untuk melakukan testing, untuk mencari orang-orang yang terkonfirmasi Covid-19.

"Kemudian tracing nantinya akan dilakukan oleh Babinkamtibmas dan Babinsa sehingga anggota yang diterjunkan ini tugasnya membantu, karena jika hanya dilakukan oleh Babinkamtibmas dan Babinsa tidak akan mampu," ucapnya.

Contoh Edukasi

Apabila ditemukan orang tanpa gejala, lanjut Suharyanto, tidak boleh langsung dibawa ke RS rujukan terlebih dahulu. Mereka harus dibawa dan di lakukan isolasi di posko PPKM di setiap RT terlebih dahulu.

"Jika memang sudah berat, maka orang tersebut harus mendapatkan perawatan ke RS. yang dipusatkan di Kabupaten dan harus koordinasi dengan pihak Puskesmas," ujarnya.

Jika di tempat isolasi RT sudah penuh, lanjut Suharyanto, maka masyarakat dibawa ke tempat isolasi dan karantina di tingkat Kabupaten atau Kota. Nantinya di pintu masuk RT/RW juga akan dilakukan pemeriksaan.

"Anggota harus bisa memberikan cobtoh, edukasi dan sosialisasi penerapan protokol kesehatan ke masyarakat, mudah-mudahan dalam dua minggu bisa turun, karena target dari Pusat harus terjadi penurunan Covid-19 sebanyak 10 ribu per hari," ucapnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel