PPNI: 325 Perawat Meninggal karena Terpapar Covid-19

·Bacaan 2 menit
Tenaga kesehatan mendampingi pasien OTG COVID-19 yang tiba di Rusun Nagrak, Cilincing, Jakarta, Senin (21/6/2021). Koordinator Lapangan RSDC Wisma Atlet Kemayoran Letkol Arifin mengungkapkan 33 pasien OTG dari Jakarta Utara diisolasi di Rusun Nagrak. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhillah mengungkapkan sebanyak 325 anggotanya telah meninggal dunia akibat Covid-19. Data ini merupakan total akumulatif kasus kematian perawat selama lebih dari setahun pandemi Covid-19.

"Sudah 325 perawat meninggal. Mereka dinyatakan (terpapar) Covid-19," katanya dalam diskusi virtual, Sabtu (26/6/2021).

Harif mengatakan lonjakan kasus Covid-19 yang sangat tinggi dalam sepekan terakhir membuat rumah sakit rujukan Covid-19 nyaris penuh. Sementara itu, jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di rumah sakit terbatas. Kondisi tersebut membuat perawat kewalahan dan kelelahan.

"Kalau minggu ini teman-teman kami merasakan kelelahan fisik dan mental. Mental ini bukan karena tekanan luar tapi lihat pasien antre. Petugas kesehatan ini menjadi empati dan dibawa ke pemikiran mendalam, jadi beban mental," ujarnya.

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengatakan kasus positif Covid-19 meningkat signifikan dalam empat pekan terakhir. Bahkan, dalam sepekan terakhir, kasus Covid-19 nasional mengalami peningkatan sebesar 42 persen.

Peningkatan kasus ini dikontribusikan oleh lima provinsi di Pulau Jawa. Lima provinsi tersebut yakni, DKI Jakarta naik sebesar 13.022 kasus, Jawa Barat naik 6.449 kasus, Jawa Timur naik 1.756 kasus dan Daerah Istimewa Yogyakarta naik 1.322 kasus.

"Kemudian Jawa Tengah yang naik sebesar 1.012 kasus," jelasnya melalui keterangan pers.

Sejalan dengan kenaikan kasus positif, kematian Covid-19 juga meningkat tajam pada minggu ini. Ada lima provinsi yang menyumbang kasus kematian Covid-19 terbanyak, empat di antaranya berada di Pulau Jawa.

Yaitu, DKI Jakarta naik sebesar 200 kasus, Jawa Tengah naik 96 kasus, Jawa Timur naik 79 kasus, Jawa Barat naik 73 kasus dan Lampung naik 72 kasus.

"Hanya DIY yang angka kematiannya tidak meningkat tajam sehingga tidak masuk ke dalam lima besar," ujarnya.

Penyebab Covid-19 Meningkat

Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Maxi Reni Rondonuwu mengungkap dua penyebab kasus Covid-19 meningkat tajam dalam empat pekan terakhir. Pertama, karena varian baru Covid-19 B16172 atau dikenal dengan nama Delta. Varian ini pertama kali ditemukan di India.

"Hal ini dipengaruhi yang pertama lonjakan-lonjakan kasus secara eksponensial di daerah-daerah tertentu itu akibat daripada varian baru. Varian yang kita kenal varian Delta dari India," jelasnya dalam diskusi virtual, Rabu (23/6).

Penyebab kedua tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan rendah. Menurut Maxi, sebetulnya masyarakat bisa aman dari varian baru Covid-19 jika mematuhi protokol kesehatan.

"Mau virus apa pun kalau protokol kesehatan jalan bagus, orang masih setia menggunakan masker, menjaga jarak, jauhi kerumunan, menekan mobilitas seharusnya bisa dicegah," ujarnya.

"Tapi ternyata protokol kesehatan mulai kendor, ada varian baru. Di situ lah kasusnya meningkatnya secara tajam," sambung dia.

Reporter: Titin Supriatin/Merdeka.com

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel