PPNI: Pemotongan Insentif Pengaruhi Psikologis Nakes

Bayu Nugraha, Anwar Sadat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia atau PPNI, Harif Fadhillah angkat bicara mengenai rencana pemotongan insentif tenaga kesehatan (nakes) yang menangani COVID-19. Keputusan ini tentu dinilai tidak tepat, sebab saat ini Pandemi di Indonesia belum mereda.

"Pertama semoga itu tidak terjadi, karena kan ini menurut menteri kesehatan sedang didiskusikan lagi kepada menteri keuangan. Namun jika ini terjadi ini menunjukkan bahwa (Pemerintah) tidak peka terhadap kondisi hari ini," kata Harif kepada VIVA, Kamis 4 Februari 2021.

Adanya informasi pemotongan insentif tenaga kesehatan ini dinilai akan berpengaruh terhadap kondisi psikologis tenaga kesehatan. Sebagian besar tenaga kesehatan, khususnya perawat berharap pemotongan insentif tersebut tidak terjadi.

"Beban kerja kita masih sangat tinggi-tingginya risiko kerja juga sangat tinggi-tingginya dan ada berita ini secara manusiawi dapat memengaruhi semangat. Memengaruhi psikologis tentunya. Karena sudah banyak sekali yang bertanya ke kita, artinya sebuah pertanyaan yang sebenarnya dijawab tetapi diharapkan tidak terjadi," ujar Harif.

Untuk perawat yang saat ini bekerja untuk menangani COVID-19, kata Harif, jumlahnya lebih dari 400 ribu orang dan saat ini jumlah tersebut bersifat dinamis karena adanya sejumlah rumah sakit yang menjadi rumah sakit rujukan COVID-19. Dari jumlah perawat yang menangani COVID-19 tersebut ada sekitar 5.073 perawat yang terinfeksi COVID-19 berdasarkan data yang masuk di PPNI.

"Kalau data yang masuk sistem pemantauan kita itu 5.073 orang yang wafat 234 orang sampai dengan hari ini itu di seluruh Indonesia," ujarnya.

PPNI berharap kepada pemerintah untuk berkomitmen dalam perlindungan tenaga kesehatan. Berbagai kebijakan, sarana dan Prasarana juga harus disediakan agar tenaga kesehatan yang tidak mudah tertular COVID-19.

"Banyak hal yang harus dilakukan mulai dari pemeriksaan, skrining yang rutin, pemberian vitamin dan multivitamin daya tahan tubuh kemudian mengurangi beban kerja yang berlebihan, pengaturan jadwal kerja yang tidak membuat sangat kelelahan dan itu menjadi penting dan dukungan dukungan yang lain termasuk juga tidak membuat kebijakan yang dapat menurunkan semangat misalnya memotong insentif seperti ini," ujarnya.

Baca juga: Menkeu Sri Bersurat ke Menkes Budi, Bakal Potong Insentif Nakes 50%