Prabowo Kritik Dugaan Korupsi Pemda DKI dan Pilkada

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menilai masalah korupsi di Indonesia sudah kronis. Selain itu, Prabowo juga menyoroti soal penggunaan dana yang tidak efektif tiap pelaksanaan pilkada di tiap daerah.

Saat menjadi pembicara Dialog Nasional “Kepemimpinan Nasional Menuju Penguatan Kedaulatan Bangsa” yang diselenggarakan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, mantan Pangkostrad ini mengatakan betapa kasus korupsi dan inefisiensi anggaran di Indonesia sudah masuk stadium membahayakan dan mengancam kedaulatan bangsa. Menurutnya Indonesia akan gagal dan tumbang jika tidak segera dilakukan perubahan kebijakan pro rakyat.

"Sejarah mengatakan negara besar seperti Uni Soviet dan rezim kuat di Timur Tengah tumbang. Tidak ada uang untuk tentara dan rakyat, karena korupsi inefisiensi merajalela di elit,” kata Prabowo dalam keterangan persnya kepada Tribunnews.com, Sabtu (2/1/2013).

Prabowo juga menuturkan, tidak sejahteranya rakyat dan minimnya anggaran keamanan menyebabkan munculnya persoalan kecil yang bisa berujung pada aksi huru hara dan tumbangnya sebuah rezim.

Prabowo mencontohkan informasi dugaan korupsi yang diperolehnya dari seorang Wakil Gubernur DKI Jakarta terkait dugaan kasus korupsi anggaran yang terjadi dalam APBD DKI Jakarta periode lalu. Namun, jika sampai ratusan bahkan ribuan persen, menurutnya hal tersebut sudah membahayakan.

"10-20 persen itu bisa diwajarkan dalam dagang, tapi ini ratusan persen di DKI. Scanner harga Rp 2 juta dianggarkan Rp 200 juta. Halte bus sampai Rp 24 miliar, itu halte bus apa? Itu harga rumah di Pondok Indah. Motor pemadam kebakaran harga Rp 26 juta dianggarkan Rp 260 juta, keterlaluan," katanya.

Selain kasus korupsi, Prabowo juga menilai pemborosan dan inefiesiensi anggaran sedang terjadi di Indonesia. Ia mencontohkan borosnya pelaksanaan pemilukada di sebuah provinsi, dimana pemenangnya menghabiskan dana Rp 600 miliar, sementara yang kalah saja merogoh kocek sampai Rp 400 miliar.

"Jumlahnya sudah Rp 1 triliun. Dana dari mana itu? Pasti dari anggaran dan itu baru provinsi, belum kabupaten dan kota," katanya.

Dia mengatakan, kondisi pengunaan anggaran akan semakin tidak efisien dengan adanya rencana penambahan empat provinsi dan 16 kabupaten di Indonesia. Akibatnya anggaran daerah hanya akan habis untuk belanja pegawai, rumah dinas, gedung DPRD dan banyak lagi fasilitas pemerintahan lainnya.

"Perlu dipertimbangkan ulang kelanjutan pemilihan langsung kepala daerah dan pemekaran wilayah. Itu tidak efisien," tuturnya..

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengajak para cendekiawan, professor dan guru besar di seluruh Indonesia di ICMI, Muhamadiyah dan NU untuk melakukan perubahan. Menurutnya sejarah dunia mengatakan kekuatan kharisma dan pengaruh para cendekiawan mampu mengubah satu kebijakan di sebuah negara.

Pemerintah Amerika Serikat sudah berkali kali merasakan dasyatnya penolakan guru besar terkait kebijakan perang salah satunya saat memerangi Vietnam. "Kalau yang bicara itu aktivis, politisi, pengamat, itu belum bergetar. Tapi jika para guru besar sudah ambil kebijakan, disitu ada perubahan," tegasnya.

Prabowo menambahkan, pemerintahan yang lemah, tidak efisien dan korupsi merupakan satu diantara empat tantangan Indonesia di masa mendatang yang harus segera diselesaikan. Sedangkan tiga tantangan lainnya yakni menipisnya cadangan sumber daya energi, ledakan penduduk 1,6 persen setiap tahun atau sebanyak 3,2 juta orang, dan ketidakseimbangan struktural perekonomian.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.