Prabowo Waspadai Rencana Korea Utara Uji Coba Nuklir

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Pertahanan Prabowo Subianto turut mewaspadai terkait rencana Korea Utara yang disebut akan melakukan uji coba nuklir. Prabowo berharap, uji coba nuklir tersebut tidak dilakukan.

"Ya, kita berharap tentunya tidak terjadi. Kita sedang mengadakan langkah-langkah untuk waspada," katanya di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (2/11).

Dia sudah membuat langkah-langkah untuk mewaspadai itu. Prabowo menerangkan, pihaknya akan menambahkan jumlah rumah sakit yang ada di Indonesia.

"Kita akan umumkan tadi kita akan membangun 27 atau kita sebut totalnya 27 rumah sakit. Kita tambahkan dari kemarin pandemi. Dari WHO mengatakan, Indonesia kekurangan 12 ribu tempat tidur sebagai bangsa, yang sebenarnya tidak terlalu jelek. Banyak bangsa lain (kondisinya) lebih jelek dari kita," jelasnya.

Lebih lanjut, Ketum Gerindra ini menegaskan, Indonesia merupakan negara dengan politik luar negeri nonblok. Artinya posisi RI tidak berpihak terhadap siapa pun.

"Ya kita bersyukur posisi kita, politik luar negeri kita dari dulu bebas aktif. Kita tidak berpihak, kita nonblok, kita bersahabat dengan semua negara. Jadi kita bersyukur bahwa kita bisa menjadi mediator, menjadi penyejuk. Kita ingin jadi juru damai di mana-mana," pungkasnya.

Beberapa pekan lalu, Korea Utara melakukan 7 kali uji coba senjata. Sejumlah 12 rudal diluncurkan Korea Utara pada uji coba itu. Bahkan salah satu rudal balistik jarak menengah yang diluncurkan meluncur melewati langit Jepang.

Peluncuran yang dilakukan di bawah pengawasan Kim Jong Un itu memperlihatkan Korea Utara memiliki teknologi baru, yaitu silo atau tempat penyimpanan dan peluncuran nuklir di bawah air. Silo nuklir bawah air menunjukkan Korea Utara sedang mengembangkan teknologi baru yang membuat rudalnya sulit dideteksi dan dicegat.

Peluncuran itu adalah salah satu dari berbagai peluncuran yang dilakukan Korea Utara. Tahun ini sendiri, Korea Utara telah melakukan 25 kali uji coba peluncuran rudalnya.

Dikutip dari laman The New York Times, Rabu (12/10), peluncuran pekan lalu dilakukan Kim Jong-un untuk merayakan 77 tahun berkuasanya Partai Pekerja di Korea Utara. Peluncuran itu menunjukkan peningkatan teknologi senjata nuklir Korea Utara di bawah kepemimpinan Kim Jong-un.

Kim sendiri menyatakan peluncuran rudal terakhir itu adalah respons kemampuan serangan senjata nuklir Korea Utara karena bagi Kim, negaranya tidak akan melakukan pembicaraan dengan musuh-musuhnya.

Kim juga meminta agar negara-negara di dunia mengakui Korea Utara adalah negara berkemampuan senjata nuklir. Berbagai senjata nuklir pun dikembangkan Korea Utara setelah kegagalan pembicaraan denuklirisasi antara mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Kim beberapa tahun lalu.

Kegagalan pembicaraan itu semakin mendorong Kim untuk tidak melakukan denuklirisasi meski Korea Utara kerap kali mendapat berbagai kecaman. Kecaman-kecaman pun tidak menghentikan pengembangan nuklir Korea Utara.

Bahkan pada Senin lalu, kantor berita Korea Utara mengungkap peluncuran rudal 25 September adalah simulasi peluncuran dan pengujian kemampuan hulu ledak nuklir taktis bawah air. Tiga hari kemudian, Korea Utara meluncurkan 2 rudal jarak dekat sebagai latihan untuk menyerang bandara-bandara di Korea Selatan.

Hubungan Korea Utara dan Korea Selatan pun semakin merenggang dengan banyaknya uji senjata dan peluncuran rudal. Negara-negara di dunia pun sulit untuk mengetahui kemampuan nuklir Korea Utara karena pengembangan yang dilakukan secara rahasia.

Bagi sejumlah pengamat, terhambatnya pembicaraan antara AS dan Korea Utara digunakan Kim sebagai kesempatan untuk menguji senjata-senjatanya. Pengujian dan pengembangan senjata pun mampu menguatkan daya tawar Korea Utara dalam pembicaraan dengan AS di masa depan.

Rudal yang melewati langit Jepang pekan lalu menunjukkan kemajuan persenjataan Korea Utara. Rudal yang terbang sejauh 4,500 kilometer itu adalah rudal dengan jarak tempuh terjauh yang dimiliki Korea Utara.

Rudal itu diyakini memiliki kemampuan lebih besar dibandingkan dengan 2 rudal Hwasong-12 yang diluncurkan Korea Utara pada 2017 lalu. Konfrontasi Korea Utara pun makin menjadi di Asia Timur.

Melihat ancaman nyata serangan, Korea Selatan mengingatkan, kepemilikan nuklir oleh Korea Utara tidak akan membawanya menjadi negara maju.

“Kami ingin Korea Utara menyadari bahwa memiliki senjata nuklir tidak hanya membahayakan perdamaian dan kebebasan kawasan, tetapi juga tidak membantu ekonomi dan keamanannya sendiri,” jelas Kim Eun-hye, juru bicara Presiden Yoon. [fik]