Prahara Demokrat, Kepemimpinan AHY Diibaratkan Jadi Bom Waktu

Hardani Triyoga
·Bacaan 2 menit

VIVA – Partai Demokrat disorot karena muncul dualisme kepengurusan usai perhelatan Kongres Luar Biasa (KLB) di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatara Utara. Elektabilitas Demokrat terancam merosot dengan isu dualisme ini.

Pengamat politik sekaligus pegiat media sosial, Ninoy Karundeng menganalisis dengan kisruh ini membuat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan putranya Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY selaku dua tokoh utama Demokrat mesti mengubah strategi. Awalnya menggenjot elektabilitas kini harus waswas dengan kubu Demokrat versi KLB Sibolangit yang mengejar pengesahan Kementerian Hukum dan HAM.

“SBY telah menyusun grand design strategi untuk menutupi tujuan utama yang tersembunyi terkait konflik internal Demokrat. Yang awalnya untuk menaikkan elektabilitas, kini berubah untuk memertahankan Demokrat AHY agar mendapatkan pengesahan dari Kemenkumham," kata Ninoy di Jakarta, Rabu, 10 Maret 2021.

Menurut dia, salah satu kisruh ini lantaran sejumlah kader senior yang mengeluhkan AHY jadi ketua umum. Sindiran SBY menjadikan Demokrat sebagai partai keluarga memperlihatkan ketidakpuasan beberapa eks kader yang kecewa kemudian menginisiasi KLB di Sibolangit.

Pun, ia menambahkan sebagai tokoh, SBY mestinya bisa menghitung kepemimpinan AHY sebagai Ketum Demokrat. AHY terpilih sebagai Ketua Umum di Kongres V Demokrat di Jakarta pada Maret 2020. Ia menyampaikan model kepemimpinan dinasti ini yang akan dikhawatirkan memunculkan prahara di setiap internal partai.

"Karena sejatinya SBY sudah sejak bulan April 2020 mesti tahu bahwa kepemimpinan AHY cepat atau lambat akan menjadi bom waktu yang meledak dan melumat Cikeas,” jelas Ninoy.

Terkait manuver Wakil Ketua Umum Demokrat Benny Kabur Harman, ia menilai SBY seperti memainkan strategi mengoptimalkan potensi komunikasi media dan media sosial. Benny sebelumnya bikin heboh karena melempar isu polisi mengancam kader Demokrat di daerah. "Yang dilakukan Benny K Harman adalah bagian dari strategi komunikasi medsos SBY," tutur Ninoy.

Konflik Demokrat memanas setelah sejumlah eks kadernya menginisiasi perhelatan KLB di Sibolangit, Deli Serdang, Jumat, 5 Maret 2021. KLB ini menetapkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sebagai Ketua Umum Demokrat periode 2021-2025.

KLB itu juga menetapkan sejumlah keputusan yang salah satunya menganulir pemecatan terhadap sejumlah kader dan pengurus daerah Demokrat yang pro terhadap KLB.

Baca Juga: Jansen ke Jubir Demokrat Moeldoko: Kalian Ambil Ketua DPD dari Mana?