Prajurit TNI Jadi Gila di Dalam Hutan, Jenderal Ini Saksinya

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Bukan perkara mudah bagi seorang prajurit menghadapi pertempuran di hutan, apalagi dalam waktu yang lama. Ancaman kematian yang datang dari musuh dan kondisi alam, jadi faktor utama penyebab stres dalam tugas. Ternyata, hal itu pernah dirasakan oleh Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko.

VIVA Militer memantau wawancara Moeldoko dengan Deddy Corbuzier dalam video acara #CLOSETHEDOOR Corbuzier Podcast, yang diunggah di akun Youtube. Mantan Panglima TNI itu pernah menyaksikan langsung bagaimana prajuritnya berkelakukan aneh lantaran stres.

Dalam berita sebelumnya, Moeldoko mengatakan bahwa ia pernah terlibat langsung dalam pertempuran Operasi Seroja di Timor-Timur. Moeldoko yang saat itu masih menjadi Perwira Pertama (Pama) TNI Angkatan Darat, menyaksikan langsung bagaimana anak buahnya meregang nyawa akibat tertembak musuh.

Pria kelahiran Kediri 8 Juli 1957 ini mengaku sempat emosi melihat anak buahnya mati di depan matanya sendiri. Sontak, Moeldoko langsung melompat dan mengejar musuh yang menembak mati anak buahnya itu. Meskipun pada akhirnya, Moeldoko ditahan oleh prajurit lainnya.

Menurutnya, ia memiliki berbagai cara untuk menjaga mental para prajuritnya saat bertempur. Memang, Moeldoko mengakui bahwa peristiwa kematian seorang prajurit akan berdampak menurunkan semangat juang prajurit lainnya.

Namun demikian, Moeldoko menginstruksikan para anak buanya untuk membalas setiap perlakukan musuh. Jika ada yang tewas, langkah selanjutnya adalah membalas dendam kematian rekannya itu. Karena jika mental terus turun, bukan tak mungkin prajurit akan mengalami stres.

"Justru yang kita bangun membalas dendam. Saya menggerakkan pasukan saya untuk mengejar mereka. Kita enggak boleh takut dalam menghadapi situasi seperti itu, karena ujung-ujungnya stres. Ada juga prajurit kita yang stres," ujar Moeldoko.

***

Moeldoko menceritakan bahwa ia juga pernah melihat langsung ada anak buahnya yang mengalami stres berat. Pada malam hari saat akan beristirahat, seluruh prajurit membuat pertahanan melingkar dan secara bergantian melakukan penjagaan.

Saat itu juga, ada seorang prajurit yang mendadak telanjang dan berteriak-teriak di tengah hutan. Tak hanya berteriak-teriak, sang prajurit yang stres itu menembakkan senapannya berulang kali.

"Ada yang malam hari waktu kita tidur kan kita buat pertahanan melingkar. Di situ ada anak buah telanjang, teriak-teriak, nembak-nembak (sendiri)," kata Moeldoko melanjutkan.

Sebagai seorang komandan, Moeldoko mengerti betul bagaimana hal itu bisa terjadi. Tak semua prajurit kuat secara mental dan fisik dalam menghadapi situasi mencekam dan ancaman kematian di tengah hutan. Pengalaman ini yang mengajarkan Moeldoko untuk tetap tegar dan sigap menghadapi situasi seperti itu.

"Situasi di dalam pertempuran itu, kita bekerja, waktu itu saya hampir setahun ada di hutan. Enggak lihat lampu neon, enggak lihat apa-apa. Ya sudah, begitu satu tahun dalam hutan," ucap mantan Panglima Kodam III/Siliwangi itu.

"Pasti lah ada orang yang punya tingkat ketahanan, ada yang enggak mampu. Jadi biasa itu ada yang stres begitu. Kita evakuasi, kita rehabilitasi, balikin lagi ke depan lagi," katanya.