Prancis dan sekutu Sahel menyatakan kemajuan dalam kampanye anti-jihad

Nouakchott (AFP) - Negara-negara kawasan Sahel Afrika dan sekutu mereka Perancis pada Selasa menyatakan tekadnya untuk terus maju dengan perubahan taktis dalam langkah mereka melawan pemberontakan gerilyawan yang sudah berjalan delapan tahun, mengatakan bahwa perubahan telah memunculkan keuntungan besar meskipun tantangan besar juga tetap ada.

Setelah pertemuan puncak di ibu kota Mauritania, Noukchott, untuk meninjau kembali strategi baru yang sudah diterapkan dalam enam bulan, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan ada "hasil yang spektakuler."

"Kami yakin bahwa kemenangan memungkinkan di Sahel, dan itu menentukan stabilitas di Afrika dan Eropa," katanya.

"Kami sedang dalam proses menemukan jalan yang benar berkat upaya yang telah dilakukan selama enam bulan terakhir ini."

KTT satu hari itu mengumpulkan presiden Burkina Faso, Chad, Mali, Mauritania dan Niger, serta mantan penguasa kolonial mereka Prancis.

Pertemuan itu dilakukan untuk mempertimbangkan suatu pendekatan yang lebih agresif, didorong oleh serangkaian kemunduran tahun lalu yang ditandai dengan tewasnya 13 tentara Prancis dalam kecelakaan helikopter.

Di bawah perubahan itu, Prancis mengerahkan 500 pasukan tambahan dalam pasukan anti-jihad Barkhane di Sahel, sehingga pasukannya menjadi 5.100.

Sejak itu, para gerilyawan terus melakukan serangan hampir setiap hari, tetapi mereka juga kehilangan pemimpin kunci dalam sebuah serangan Prancis dan bertempur secara internal, menurut sumber keamanan.

Pasukan koalisi telah memusatkan perhatian pada "wilayah tiga perbatasan," yaitu perbatasan Burkina, Niger dan Mali.

"Wilayah telah diambil kembali dari kelompok-kelompok teroris (dan) pasukan telah dikerahkan kembali," kata Macron, menambahkan bahwa taktik "telah mengubah dinamika."

"Kami sekarang harus mengkonsolidasikan dinamika ini dan memperkuatnya ... Kawasan yang telah kita kuasai tidak akan diserahkan kembali," katanya memperingatkan.

Sebaliknya, tuan rumah KTT Presiden Mohamed Ould Cheikh El Ghazouani dari Mauritania sebelumnya menyuarakan nada yang lebih hati-hati, mengatakan ada "kemajuan yang signifikan" tetapi ini "tidak cukup dalam menghadapi tantangan yang harus kita atasi."

"Ekstremisme kekerasan dalam segala bentuknya terus melanda beberapa zona ... dan meluas dengan cara yang mengkhawatirkan," katanya.

Pemberontakan dimulai di wilayah utara Mali pada 2012, selama pembangkangan oleh separatis Tuareg yang kemudian diambil alih oleh para jihadis.

Terlepas adanya ribuan pasukan PBB dan Prancis, konflik itu menyebar ke Mali tengah, tetangga Burkina Faso dan Niger, memicu pertikaian antara kelompok etnis dan memicu kekhawatiran bagi negara-negara lebih jauh ke selatan.

Ribuan tentara dan warga sipil telah terbunuh, ratusan ribu orang telah meninggalkan rumah mereka dan ekonomi ketiga negara, yang sudah termasuk yang termiskin di dunia, telah rusak parah.

Macron tiba untuk perjalanan pulang-pergi dari Eropa untuk menghadiri KTT, dengan perwakilan dari PBB, Uni Afrika dan Uni Eropa yang hadir. Para pemimpin Spanyol, Jerman dan Italia juga bergabung, melalui tautan video atau secara langsung.

Pertemuan tersebut menandai pertama kalinya bahwa sekutu Sahel telah berkumpul secara fisik sejak awal krisis virus corona.

Operasional di wilayah tiga perbatasan ini menargetkan kelompok yang berafiliasi dengan IS yang dipimpin oleh Abou Walid al-Sahraoui.

Pada tanggal 5 Juni, pasukan Prancis di Mali utara, dibantu oleh pesawat tak berawak AS, membunuh Abdelmalek Droukdel, kepala al-Qaeda yang terkenal kejam di Maghreb Islam (AQIM).

Dan dalam perkembangan baru, para gerilyawan yang terkait dengan al-Qaeda dan IS telah bentrok beberapa kali sejak awal tahun ini di Mali dan Burkina Faso, setelah lama saling menjauhi, menurut para pakar keamanan.

Meskipun demikian, masih banyak masalah di Sahel.

Tentara lokal tidak memiliki perlengkapan yang memadai dan kurang dana, dan di beberapa daerah layanan penting dan kehadiran pemerintah telah menghilang.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan tentara disalahkan atas ratusan pembunuhan dan pelanggaran lain terhadap warga sipil - sebuah kekhawatiran bahwa pertemuan puncak itu hanya memberi sanksi peringatan jika kasus-kasus seperti itu dikonfirmasi.

Sekutu Perancis Chad belum memenuhi janji untuk mengirim pasukan ke wilayah tiga perbatasan, dan inisiatif yang didengungkan untuk membentuk 5.000 orang pasukan G5 Sahel kemajuannya lambat.

Di Mali, kemarahan pada rasa tidak aman telah memicu ketidakpuasan atas pembatasan virus corona dan hasil pemilihan umum, menciptakan krisis politik bagi Presiden Ibrahim Boubacar Keita.

Baik Burkina maupun Niger akan mengadakan pemilihan presiden pada akhir tahun, memicu kekhawatiran tentang hasilnya.

KTT berikutnya dari sekutu Sahel ditetapkan untuk awal 2021.