Prancis Ingatkan Warganya Waspada di Negara Muslim

Aries Setiawan
·Bacaan 2 menit

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Prancis memperingatkan warganya yang tinggal atau bepergian di beberapa negara mayoritas Muslim untuk mengambil tindakan pencegahan ekstra demi keamanan, Selasa (27/10). Peringatan ini disampaikan Prancis karena kemarahan yang melonjak akibat diterbitkannya kartun Nabi Muhammad.

Sebagai tanda beberapa negara ingin membatasi dampaknya, Arab Saudi mengutuk kartun tersebut tetapi menahan seruan dari negara-negara Muslim lainnya untuk memboikot produk Prancis atau tindakan lainnya.

Perselisihan itu berakar pada serangan di luar sekolah Prancis pada 16 Oktober 2020. Seorang pria asal Chechnya memenggal kepala Samuel Paty seorang guru yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya dalam pelajaran kewarganegaraan tentang kebebasan berbicara. Karikatur tersebut dianggap menghujat umat Islam.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Prancis pada Selasa (27/10) mengeluarkan imbauan keselamatan kepada warga Prancis di Indonesia, Bangladesh, Irak, dan Mauritania. Pemerintah Prancis menasihati mereka untuk berhati-hati. Mereka harus menjauh dari protes apa pun atas kartun tersebut dan menghindari pertemuan publik.

"Direkomendasikan untuk waspada, terutama saat bepergian, dan di tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan atau komunitas ekspatriat," kata Kemenlu Prancis, dilansir dari Independent, Rabu (28/10).

Kedutaan Prancis di Turki mengeluarkan nasihat serupa kepada warganya di sana. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menjadi salah satu kritikus paling keras terhadap pemerintah Prancis. Erdogan sendiri yang memimpin seruan untuk memboikot barang-barang Prancis.

Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin membalas pada Selasa (27/10), Turki dan Pakistan tidak boleh ikut campur dalam urusan dalam negeri Prancis. Pemerintah Prancis telah menarik duta besarnya di Ankara dan parlemen Pakistan pada Senin lalu. Mereka mengeluarkan resolusi yang mendesak pemerintah menarik utusannya dari Paris.

Gambar Nabi pertama kali diterbitkan tahun lalu oleh majalah satir Prancis, yang kantor editorialnya diserang pada 2015 oleh orang-orang bersenjata yang menewaskan 12 orang. Sejak pemenggalan kepala guru Paty bulan ini, kartun-kartun itu dipertunjukkan di Prancis sebagai bentuk solidaritas. Dampaknya membuat marah sebagian Muslim.

Presiden Prancis Macron yang bertemu dengan perwakilan komunitas Muslim Prancis pada Senin lalu telah berjanji melawan "separatisme Islam". Dengan mengatakan hal itu, ia mengancam mengambil alih beberapa komunitas Muslim di Prancis.

Arab Saudi tampaknya mengambil tanggapan moderat terhadap kontroversi tersebut dan menghindari seruan boikot. Seorang pejabat Kemenlu Arab Saudi mengatakan negara Teluk mengutuk semua tindakan terorisme, yang jelas merujuk pada pembunuhan Paty.

Namun, seruan memboikot jaringan supermarket Prancis, yakni Carrefour menjadi trending di media sosial di Arab Saudi. Di Kuwait, beberapa supermarket telah menarik produk Prancis.

Prancis adalah pengekspor utama biji-bijian ke Afrika Utara yang sebagian besar Muslim, dan perusahaan Prancis di sektor otomotif dan ritel juga memiliki eksposur yang signifikan ke negara-negara mayoritas Muslim. Menteri Perdagangan Prancis Franck Riester mengatakan masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak dari kampanye boikot, tetapi sejauh ini hal itu terbatas dan terutama mempengaruhi ekspor pertanian Prancis.

Kemenlu Iran memanggil Prancis atas diterbitkannya kartun tersebut, media pemerintah melaporkannya pada Selasa. Seorang pejabat kementerian mengatakan kepada diplomat Prancis selama pertemuan mereka pada Senin lalu bahwa Iran dengan keras menolak penghinaan terhadap Nabi Muhammad.

https://www.independent.ie/world-news/europe/take-extra-security-precautions-france-tells-citizens-visiting-four-muslim-countries-39675715.html