Prancis Larang Grey Wolves, Dituduh Bersekongkol dengan Erdogan

Renne R.A Kawilarang, BBC Indonesia
·Bacaan 2 menit

Prancis melarang kelompok sayap kanan Turki `Grey Wolves` melakukan kegiatan apapun setelah mereka dituduh merusak dengan slogan pro-Turki di sebuah tembok peringatan genosida terhadap etnis Armenia di dekat kota Lyon.

The Grey Wolves, sebuah organisasi internasional, dipandang bersekutu dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan diduga berada di balik pengerusakan itu.

Tembok peringatan itu diwarnai dengan grafiti kuning pada akhir pekan kemarin yang menyertakan inisial Erdogan.

Aksi pengerusakan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Prancis dan Turki atas sengketa wilayah di Nagorno-Karabakh.

Pertempuran antara Armenia dan Azerbaijan meletus di wilayah pegunungan Nagorno-Karabakh pada bulan September lalu. Wilayah ini diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, tetapi dikendalikan oleh etnis Armenia.

Turki telah mendukung Azerbaijan dalam konflik tersebut.

Langkah untuk melarang kelompok Grey Wolves akan diajukan ke kabinet Prancis pada Rabu (03/11).

Larangan itu berarti bahwa kegiatan atau pertemuan apa pun oleh kelompok Grey Wolves dapat mengakibatkan denda atau hukuman penjara, kata Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin.

Karena grup tersebut adalah organisasi internasional, larangan tersebut hanya akan membatasi aktivitasnya di Prancis.

Gambar peringatan di luar Lyon menunjukkan grafiti kuning yang menampilkan nama Grey Wolves di samping huruf "RTE" - untuk Recep Tayyip Erdogan.

Pekan lalu, empat orang di luar Lyon terluka dalam perkelahian antara tersangka nasionalis Turki dan warga Armenia yang memprotes Azerbaijan atas konflik Nagorno-Karabakh, menurut kantor berita AFP.

Ketegangan antara Prancis dan Turki juga meningkat baru-baru ini setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron berjanji untuk mempertahankan nilai-nilai sekuler dan memerangi Islam radikal.

Menanggapi komentar Macron, Erdogan mengatakan presiden Prancis membutuhkan pemeriksaan kesehatan mental.

Itu terjadi setelah guru bahasa Prancis Samuel Paty dibunuh usai menunjukkan gambar kontroversial Nabi Muhammad kepada muridnya.

Penggambaran Nabi Muhammad dapat menyebabkan pelanggaran serius bagi umat Islam karena tradisi Islam secara eksplisit melarang gambar Muhammad dan Allah (Tuhan).

Pekan lalu, Turki berjanji untuk mengambil "tindakan hukum dan diplomatik" atas kartun Erdogan yang muncul di sampul majalah Prancis Charlie Hebdo.

Kartun itu menggambarkan presiden Turki sedang mengangkat gaun wanita berkerudung.