Prarekonstruksi Ayah Bunuh Anak di Depok, Kejanggalan Posisi Korban Terungkap

Merdeka.com - Merdeka.com - Polisi menggelar prarekonstruksi kasus ayah bunuh anak kandung di Jatijajar, Tapos, Depok. Rizki alias Kiki menjalankan 15 adegan.

"Di sini ambil contoh adegan atau sampel yang kira-kira masih menjadi pertanyaan. Misalnya bagaimana anak dieksekusi di wastafel, tapi kemudian jenazahnya ditemukan di ruang tamu, semua bisa terjawab di situ," kata Kasat Reskrim Polres Metro Depok AKBP Yogen Heroes Baruno, Rabu (9/11).

Dalam proses prarekonstruksi tadi sempat ada hal yang dianggap janggal. Yaitu mengenai posisi jasad anak yang ditemukan di ruang tamu. Padahal Kiki membantai anaknya di bawah wastafel.

"Sampai saat ini, saya sampaikan itu posisi mayat berbeda, jadi dia tahunya mengeksekusi anaknya di wastafel belakang. Kemudian jenazahnya ditemukan di depan," ujarnya.

Namun sayangnya Kiki tidak dapat menjelaskan mengenai kejanggalan tersebut pada penyidik. Kejanggalan baru terungkap ketika prarekonstruksi bahwa anaknya sempat menghampiri ibunya di ruang tamu usai dibantai ayahnya.

"Akhirnya terjawab sudah bahwa kemudian ada saat terakhir dari sang anak untuk menghampiri ibunya di ruang tamu," ungkapnya.

Dari proses tersebut juga diketahui bahwa Kiki membacok istrinya di ruang tamu, sedangkan anaknya di ruang belakang.

"Saat menghabisi ibunya di ruang tamu, nah si anak posisinya ada di belakang. Pelaku juga menutup pintu tapi tak mengunci," katanya.

Pelaku diketahui membacok lima kali kepada istrinya. Sedangkan kepada anaknya pelaku membacok lebih dari tiga kali namun pelaku tidak hapal jumlahnya.

"Pelaku membacok lima kali kepada ibu. Kalau anaknya lebih tiga lebih karena pelaku belum bisa memastikan jumlahnya," bebernya.

Rencananya, akan dilakukan proses rekonstruksi di mana nanti akan dilakukan agenda penuh sehingga terungkap jelas kasus tersebut. Rekonstruksi akan dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku.

"Kalau rekonstruksi full nanti. Rencananya setelah kita melakukan pemeriksaan psikologi dan buat surat ke jaksa," pungkasnya. [cob]