Prasasti-prasasti di Kawasan Madiun

·Bacaan 5 menit

VIVA – Masa lalu adalah bagian dari masa kini . Kerena tidak ada masa kini, tanpa melalui masa – masa yang lalu. Dengan demikian yang terjadi masa kinipun, akan menjadi bagian dari masa mendatang. Masa lalu, sebagai sebuah sejarah layak ditelusuri, karena dari situlah kita belajar perkembangan peradaban dan sekaligus bisa memetik pengetahuan.

Menelusuri jejak masa lalu, apalagi ribuan tahun yang lalu tentu saja bukanlah pekerjaan yang mudah. Perubahan alam dan waktu acapkali menyirnakan dokumen-dokumen yang semestinya menjadi rujukan melihat masa silam. Apalagi keterbatasan teknologi di masa lalu membuat kita kesulitan memaknai peristiwa di massa silam.

Jejak sejarah Madiun di masa lalu harus pula dipahami dengan konteks waktu kala itu. Untuk menggambarkan wilayah yang kemudian bernama Madiun, kita dapat merujuk pada sumber data yang tersedia.

Ada 3 (tiga) sumber rujukan yang dipakai dalam penelusuran sejarah kabupaten Madiun , masa lalu, yakni dari dongeng rakyat/ falklore, prasasti/dokumen, dan benda-benda purbakala.

Sebagai penanda ( tetengger) dan termasuk salah satu benda peninggalan purbakala, lazimnya prasasti berupa karya tulisan yang terpahat pada batu, logam, kulit binatang dan atau bahan –bahan lain. Bahasa dan huruf yang dipergunakan untuk menulis prasasti, merupakan bahasa dan huruf yang dipakai pada zaman prasasti itu dibuat.

Di Kabupaten Madiun, terdapat banyak prasasti atau peninggalan kuno. Prasasti itu sangat membantu bagi generasi sekarang untuk menelusur jejak sejarah masa silam . Karena dari prasasti itu biasanya terdapat informasi tentang peristiwa dan tokoh- tokoh masa silam.

Prasasti Mruwak

Prasasti ini ditemukan di desa Mruwak. letaknya di kecamatan Dagangan, kaki bukit Gunung Wilis. Prasasti tersebut ditemukan oleh mahasiswa jurusan sejarah IKIP di Madiun pada waktu mengadakan kuliah kerja lokal bulan juli tahun 1975 di bawah dosen pembimbing Drs. Koesdim heroekoentjoro dan Drs. Arief soekawinoto. Di dalam inventarisasi yang dilakukan oleh dinas purbakala pemerintah Hindia Belanda, tidak tercantum prasasti tersebut.

Melalui studi komparatif huruf kawi dalam perkembangan abad dapat ditarik kesimpulan bahwa prasasti Mruwak paling cepat dibuat pada akhir abad X, bersamaan dengan kejadian historis dilakukannya pemindahan pusat kerajaan dari Jawa tengah ke Jawa tumur. Kedudukan pertama di wilayah Kabupaten Madiun sebelah selatan sebelum kemudian lebih lanjut dipindahkan ke daerah aliran sungai Brantas atas dasar pertimbangan yang mencakup segi –segi politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Prasasti Sendang Kamal

Sendang Kamal adalah nama desa yang termasuk wilayah Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan lebih kurang 11 Km di sebelah barat Kota Madiun. Di pinggir desa itu terdapat sendang sumber air yang dibenahi menjadi kolam pemandian, tapi sekarang keadan tidak terawat lagi. Di sana di halaman kolam sebelah selatan terdapat sebuah batu prasasti .

Prasasti itu di keluarkan pada tahun 991 atas perintah prabhu shri maharaja teguh dharmawangsa anantawikrattunggadewa yang memerintah kerajaan medang lebih kurang tahun 987- 1017 . Adapun isi prasasti tersebut merupakan kutipan dari kitab shiwasana , suatu kitab undang- undang hukum yang mengatur kehidupan kenegaraan dan masyarakat menurut pandangan ajaran hindhu shiwaisme.

Diperingatkan kepada manusia agar selalu taat setia melakukan kewajipanya “ tri dharma bhakti “, berbakti kepada shiwa mahadewa, negara dan pemerintah serta masyarakat termsuk kebaktian untuk keluarga.

Ditambahkan agar sumber air yang terdapat di situ sebagai lambang kehidupan dipelihara untuk dapat didayagunakan sebaik-baiknya bagi usaha menciptakan kemakmuran serta kesejahteraan. Prasasti ditutup dengan suatu harapan agar selalu dijunjung tinggi maksud atau isi yang diundangkan sebagai perintah raja.

Orientasi pemerintahan Prabhu Darmawangsa selalu mengarah pada kepentingan rakyat, untuk menciptakan kehidupan makmur sejahtera yang adil dan merata berdasarkan agama Hindu Shiwaisme melalui usaha terutama di bidang pertanian di samping meningkatkan pula usaha di bidang pelayaran dan perniagaan.

Prabhu Dharmawangsa menyadari betapa pentingnya masalah air bagi usah bercocok tanam yang tidak kurang dari 90% penduduk hidup dari usaha tersebut. Karena itu wajar apabila selalu menaruh perhatian pada sumber air dan memerintahkan pengaturan sebaik-baiknya dalam memanfaatkan, di samping membuat saluran-saluran baru dalam rangka usaha memenuhi kebutuhan irigasi.

Tempat pemukiman penduduk yang sering ditimpa banjir pada waktu musim penghujan akibat luapan Sungai Brantas mendapat perhatian secara serius. Usaha penanggulangan dilakukan denga jalan menanggul membuat dinding bagian tepian sungai yang rawan serta memukimkan kembali sebagian penduduk di tempat baru.

Dari keterangan itu jelas bahwa daerah Madiun pada masa pemerintahan Prabhu Shri Maharaja Teguh Dharmawangsa Anantawikramottunggadewa merupakan bagian dari kesatuan wilayah kerajan yang sangat potensial di dalam segi geopolitik dan strategi pembinaan keutuhan wilayah serta ketahanan keamanan kerajaan.

Prasasti Bibrik

Bibrik suatu desa termasuk wilayah Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun, terletak di sebelah barat laut lebih kurang 10 km dari Kota Madiun. Sebuah prasasti diketemulan di sana tergeletak di dalam kebun seseorang penduduk desa dalam keadaan tidak terpelihara.

Disebut Prasasti Bibrik berdasar pertimbangan oleh karena terletak di desa tersebut seperti halnya prasasti yang diuraikan terdahulu disebut menurut nama desa tempat diketemukan. Dengan demikian nama tersebut lahir bukan dari kata-kata yang terdapat dalam prasasti dan bersifat sementara.

Keadaan huruf sangat rusak, hampir sepenuhnya tidak dapat dikenal kembali. Beradasarkan tipebatu terutama teknis corak pahat setelah membandingkan segala sesuatunya denga yang terdapat di lereng Gunung Lawu ada petunjuk untuk menduga bahwa prasasti tersebut agaknya dibuat pada tahun-tahun akhir abad XV dan awal abad XVI masa keruntuhan Kerajaan Majapahit.

Faktor tenaga manusia yang dimiliki daerah Madiun ternyata cukup besar sebagai sarana utama dalam kaitannya dengan semua bidang usaha untuk tetap menjamin tegaknya kerajaan terus menerus.

Oleh karena itu sampai masa akhir pemerintahan Majapahit daerah Madiun dipandang perlu untuk tetap dipertahankan dalam sisa kerajaan. Diduga latar belakang demikian itulah yang mendorong raja Majapahit memerintahkan pembuatan Prasasti Bibrik. Bagaimanapun juga prasasti tersebut belum dapat dipecahkan secara epigrafis dan selama itu pula akan merupakan misteri yang menarik perhatian.

Prasasti Klagen Serut

Disebut demikian oleh karena prasasti tersebut terdapat di Desa Klagen Serut termasuk wilayah Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun, lebih kurang 6 km di sebelah barat laut Kota Madiun.

Keadaan fisik dapat dikatakan sama benar dengan Prasasti Bibrik, bersifat bhimuka yaitu kedua bidang bagian muka dan belakang tempat menuliskan kalimat-kalimat. Lebih jauh dapat lagi diaktakan bahwa Prasasti Klagen Serut dan Prasasti Bibrik Kembar Dua.

Oleh sebab itu dapat diduga berasal dari penguasa yang sama dari Kerajaan Majapahit menjelang keruntuhan. Diduga isinya berupa penegasan kembali tentang kekuasaan raja atas daerah itu dalam hubungannya dengan pengaruh agama dan kuasa baru Islam yang terus berkembang meluas yang berpusat di Demak.

Seperti halnya Prasasti Bibrik, Prasasti Klagen Serut, huruf-hurufnya sudah rusak benar sehingga sulit untuk dapat dibaca kembali. Keadaan demikian merupakan pokok hambatan untuk dapat dipecahkannya isi serta makna secara jelas dan selama itu pula akan tetap merupakan tantangan bagi ahli epigrafi. (Arif Gumantia, Ketua Majelis Sastra Madiun)