Pratikto: Penghargaan ADFP beri semangat G20 untuk perdamaian dunia

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno mengatakan penghargaan perdamaian internasional 2022 dari Abu Dhabi Forum for Peace (ADFP) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghasilkan semangat bagi Indonesia dalam melaksanakan KTT G20 untuk perdamaian dan kemakmuran dunia.

"Presiden menyampaikan terima kasih atas penghargaan ini dan sekaligus juga mempererat hubungan antara Indonesia dan Persatuan Emirat Arab (PEA), dan sekaligus memberikan semangat bagi kita semua untuk melaksanakan G20 bagi perdamaian dan kemakmuran dunia," kata Pratikno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.

Pratikno mengatakan penghargaan ini juga dapat dimaknai sebagai pentingnya perdamaian. Masih banyak hal yang mesti ditegakkan guna menciptakan perdamaian dunia. "Ini akan memberikan kontribusi besar bagi dunia," ucap dia.

Baca juga: Presiden Jokowi terima anugerah perdamaian dari ADFP

Baca juga: Presiden Jokowi terima penghargaan "Global Citizen Award"

Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, menerima Sekretaris Jenderal ADFP Al-Mahfouz bin Bayyah, yang didampingi Duta Besar PEA untuk Indonesia beserta delegasi. Al-Mahfouz dalam pertemuan itu ingin menegaskan kembali penghargaan perdamaian internasional Imam Hasan bin Ali International Peace Prize Award 2022 untuk Presiden Jokowi yang sebelumnya telah diberikan melalui Wakil Presiden Ma'ruf Amin pada 2 November 2022.

Menurut Pratikno yang mengutip pernyataan Al-Mahfouz saat bertemu dengan Preisden, penghargaan perdamaian tersebut sangat bergengsi. Imam Hasan Bin Ali yang dijadikan nama penghargaan tersebut merupakan cucu dari Nabi Muhammad SAW.

Bagi negara dan masyarakat Indonesia, kata Pratikno, penghargaan tersebut merupakan kehormatan luar biasa.

Baca juga: Indonesia terima penghargaan IRRI atas capaian swasembada beras

“Presiden Jokowi telah dipercaya sebagai pemimpin yang menyebarkan pesan dan budaya damai bagi seluruh dunia," ujarnya.

Terlebih saat ini, kata Pratikno, dunia sedang menghadapi krisis pangan, krisis energi, dan juga krisis akibat dampak perang di Ukraina. Krisis di dunia juga menyebabkan hambatan pada rantai pasok barang di dunia.

"Bukan hanya orang tidak mampu beli, tapi juga ketersediaan nya langka di dunia, Oleh karena itu jika kita bisa selesaikan ini, kita bisa kontribusi untuk dunia," tutur Mensesneg.