Preman Songong Cari Ribut Sama Kopassus TNI, Begini Ujungnya

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Andika Perkasa, memerintahkan jajarannya untuk mengawal penyelidikan terkait insiden pengeroyokan tujuh orang preman terhadap seorang anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Dalam laporan VIVA Militer Senin 19 April 2021, insiden pengeroyokan itu terjadi di bilangan Blok M, Jakarta Selatan, Minggu 18 April 2021. Tujuh orang preman secara beringas mengeroyok seorang prajurit TNI yang ternyata adalah anggota Kopassus.

Beruntung, prajurit Kopassus itu hanya mengalami luka-luka dan sudah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Tak hanya itu, para preman itu juga menghabisi nyawa anggota Korps Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia (Korps Brimob Polri). Diketahui, anggota Korps Brimob yang tewas adalah Bharatu Yohanes, mengalami sejumlah luka tusuk.

Andika menginstruksikan kepada jajarannya untuk mengusut secara tuntas kasus ini. Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) ini juga secara detal menyelediki apakah ada keterlibatan anggotanya dalam insiden itu.

Aksi pengeroyokan preman terhadap prajurit TNI, terutama terhadap prajurit Kopassus, bukan sekali ini terjadi. Tentu masih segar dalam ingatan bagaimana peristiwa tewasnya Sersan Satu (Sertu) Heru Santosa, anggota Grup 2 Kopassus/Para Komando.

Heru tewas pada 19 Maret 2013, setelah dikeroyok sejumlah preman di sebuah cafe yang berada di Jalan Adisucipto, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabar meninggalnya Heru membuat rekan-rekannya sesama anggota Grup 2 Kopassus murka.

Kemarahan rekan-rekan Heru bukan tanpa alasan. Bagi seorang anggota Kopassus, salah satu hal yang tak boleh disentuh adalah kehormatan korpsnya. Kesetiaan dan kecintaan para anggota Kopassus terhadap satuannya dikenal dengan istilah jiwa korsa.

Buntutnya, pada 23 Maret 2013 belasa orang anggota Kopassus mendatangi Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, tempat para tersangka pembunuhan Heru ditahan. Setelah berhasil masuk ke dalam LP, empat tersangka pembunuh Heru pun ditembak mati oleh seorang anggota Kopassus.

Empat tersangka yang tewas adalah Hendrik Benyamin Angel Sahetapi alias Diki Ambon (31), Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33), Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu (29), dan Yohanes Juan Manbait alias Juan (38). Berdasarkan penyelidikan, tiga orang yang ditembak mati di LP Cebongan adalah kawanan preman. Sementara itu, satu orang lainnya adalah mantan anggota Polri yang dipecat karena kasus narkotika dan obat-obatan (narkoba).