Prematur, Bayi yang Lahir di Merpati Meninggal

TEMPO.CO, Maros - Annisa Laila Juwita Sari Merpati, bayi perempuan yang dilahirkan oleh Harmani (33 Tahun) di pesawat Merpati MZ-845 PK-MDO B-734 yang mengudara, akhirnnya meninggal. Annisa menghembuskan napas terakhirnya Senin malam 7 Januari 2013, di Rumah Sakit Catherina Both Makassar sekitar pukul 20:00 Wita setelah menjalani perawatan selama 23 Jam.

Harmani bersama suaminya Rudi Hamja (34 Tahun), terbang dengan menggunakan pesawat Merpati dari bandara Timika ke bandara Sultan Hasamuddin, Makassar. Mereka terbang sekitar pukul 18:00 Wita.  "Setelah 30 menit pesawat di udara, perut Harmani merasa ingin melahirkan", kata Rudi saat ditemui di rumah orang tuanya di Dusun Bontobua, Desa Alatengae, Kecamatan Bantimurung, Selasa 8 Januari 2013.

Rudi menegaskan, saat istrinya, hendak naik kepesawat kondisinya sehat. Dia juga tidak merasakan sakit pada kandungannya yang baru berusia tujuh bulan. "Rencana kami berdua ke kampung untuk melahirkan." (Baca: Drama Harmani Melahirkan di Pesawat Merpati).

Harmani mengatakan, saat itu perusnya mules hebat, seperti ingin buang air.  "Sebelum naik ke pesawat saya sempat dikarantina dan diperiksa oleh tim medis di Bandara Timika, dan berdasarkan surat keterangan dokter saya dinyatakan sehat dan tidak ada masalah masalah", kata Rahmani sembari menangisi bayi perempuanya yang telah dikebumikan.

Mules itu akhirnya tak bisa ditahan, dia melahirkan di pesawat dibantu oleh pramugari dan satu orang penumpang yang juga seorang mahasiswa keperawatan. Bayi itu lahir selamat. (Lihat juga: Pramugari Merpati yang Menolong Kelahiran Dapat Bonus)

Ia mendarat sekitar pukul 19:45,  di Makassar, lalu langsung ke rumah sakit. Bayi Harmani sempat dirawat di RSUD Daya, namun dianjurkan dirujuk ke rumah Catherina Both karena kondisi bayi kami harus dirawat lebih serius.

Ia mengaku, bayinya lahir dalam kondisi prematur dengan berat timbangan hanya 1,7 kilogram. Saat di pesawat, empat pramugari Merpati sudah berjuang menolong melahirkan dan merawatnya. Bayi itu di pesawat diletakkan di atas troli. Di rak bawah troli diisi air panas agar suhu udaranya hangat. Rupanya, Tuhan berkehendak lain. Bayi itu meninggal. Jenazahnya bayi itu kemudian dikebumikan di pemakaman Bontobua Selasa pagi,

JUMADI

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.