Presdir CSA Institute beberkan strategi investasi saham di 2021

Budi Suyanto
·Bacaan 2 menit

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso membeberkan strategi investasi saham di 2021 agar bisa mendapatkan imbal hasil yang optimal, salah satunya yakni dengan memilih perusahaan yang baik dan tetap bisa menghasilkan profit meski dilanda gejolak ekonomi.

"Tetap pilih perusahaan yang baik, yang earning-nya positif, yang tetap bisa menghasilkan keuntungan. Itu kriteria pertama," ujar Aria saat menjadi pembicara dalam seminar di gelaran Capital Market Summit & Expo 2020 secara virtual di Jakarta, Kamis.

Andaikan memang kinerja perusahaan terjadi perlambatan, lanjut Aria, investor bisa melihat bahwa manajemen cukup menguasai dengan baik masalah dan solusinya, termasuk strategi-strategi efisiensi.

Baca juga: Analis sarankan investor pemula koleksi saham diskonan

"Sehingga kriteria dari sisi pendapatan, perusahaan bisa punya pendapatan yang positif. Kalaupun terjadi penurunan, penurunannya tidak terlalu dalam," kata Aria.

Selain itu, Aria menyarankan investor untuk mencari perusahaan atau emiten yang masih ada pertumbuhan. Menurutnya, masih ada beberapa emiten yang bisa mempertahankan pertumbuhan meski diterpa pandemi yang masih berlangsung hingga kini.

"Atau paling tidak, kalau emiten tersebut ada perlambatan, perlambatannya tidak terlau dalam," ujarnya.

Aria pun menyarankan, ketika ada pelemahan harga saham, merupakan kesempatan bagi para investor untuk melakukan aksi beli. Menurut Aria, ketika market sedang naik atau bullish, biasanya para investor sangat khawatir untuk membeli saham karena takut kemahalan.

Baca juga: Manajer investasi: Penanganan COVID-19 jadi kunci keyakinan investor

"Jadi ketika kondisi seperti ini, sebenarnya kondisi yang sangat bagus ketika kita bisa membeli dengan harga yang lebih murah. Jadi pada saat pelemahan-pelemahan, ketika ada kekhawatiran, itu adalah kesempatan untuk kita akumulasi beli perusahaan-perusahaan yang bagus," kata Aria.

Terakhir, Aria mengingatkan investor untuk tidak lupa membagi risiko dengan membeli beberapa saham, tidak hanya fokus ke satu emiten saja.

"Jumlah emiten yang kita beli, boleh kita bagi, jangan cuma satu fokus. Karena mungkin saja belum terjadi peningkatan atau siklus dari sektoral itu belum terjadi. Jadi boleh dibagi 5-10 emiten cukup bagus, tapi gak perlu sampai 100-200 emiten," ujarnya.